Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 12 Oktober 2017 | 13:46 WIB
  • Delapan Pintu Air Dikeringkan, Ribuan Warga Panen Ikan

  • Oleh
    • Harry Siswoyo,
    • Yandi Deslatama (Serang)
Delapan Pintu Air Dikeringkan, Ribuan Warga Panen Ikan
Photo :
  • Antara/Zabur Karuru
Ilustrasi-Ikan tangkapan nelayan

VIVA.co.id – Ribuan warga di Kabupaten Serang berduyun-duyun menangkap ikan yang terperangkap dari pengeringan Pintu Air Pamarayan yang telah dibangun sejak tahun 1905.

"Ada delapan pintu air, nanti dikeruk lagi. (Nunggu) Kering sampai tiga hari. Dahulu sampai sebulan tahun 1990'an," kata Hermanto, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pintu Air Pamarayan, Kamis, 12 Oktober 2017.

Beberapa waktu ini, bendungan yang mampu mengairi 21.350 hektare lahan pertanian ini mengalami pendangkalan. Bahkan di bagian tengahnya telah muncul daratan hingga ditumbuhi ilalang.

Diketahui, selama ini dengan delapan pintu air, jalur air bagian baratnya mengairi wilayah Kecamatan Ciruas, Kramatwatu, Pontang, Tirtayasa, Cikeusal, Kragilan dan Kota Cilegon.

"Pamarayan Timur mengairi Kecamatan Pamarayan, Bandung, kibun, Carenang, Tanara," jelasnya.

Berdasarkan catatan sejarahnya, pintu air yang dibangun tahun 1905 ini untuk menangani krisis pertanian saat musim kemarau yang mengakibatkan masyarakat Banten dan Belanda kelaparan. Belanda pun menerapkan politik etis, di antaranya membangun irigasi dan melakukan tansmigrasi.

Saat dikeringkan satu tahun sekali, selain untuk perawatan, masyarakat pun berduyun-duyun terjun ke air saat kering untuk menangkap ikan yang mabuk akibat kencangnya pusaran air.

Pembangunan Pintu Air Pamarayan dilakukan setelah pembuatan jalur rel kereta api Rangkasbitung-Anyer Lor selesai. Hal ini dilakukan untuk mengangkut batu dan material pembuatan pintu air yang berasal dari Bukit Cerlang di Anyer Lor.

Batu puluhan ribu ton itu diangkut ke Pamarayan. Karena jalur ke Rangkasbitung ke Anyer Lor sangat jauh. Kemudian, pemerintah kolonial Belanda membuat sub rel dari stasiun Catang ke lokasi Bendungan Pamarayan.

Pada 1925, dam utama dinyatakan selesai, kemudian mulai dibuat saluran irigasi induk barat dan timur. Pembangunan bendungan itu telah menghabiskan dana 5 juta gulden lebih dan 200.000 tenaga kerja.

Pada zamannya, Pamarayan mampu mengairi 27 ribu hektare sawah yang bisa ditanami sepanjang tahun. Sebelum Waduk Saguling, Pintu Air Pamarayan merupakan yang terbesar. Bahkan di tahun 1951, Presiden Soekarno mengunjunginya.