Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 13 Oktober 2017 | 19:17 WIB
  • Gempa Tremor Masih Guncang Gunung Agung

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Bobby Andalan (Bali)
Gempa Tremor Masih Guncang Gunung Agung
Photo :
  • ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana
Gunung Agung keluarkan asap mengepul.

VIVA.co.id – Gempa tremor non-harmonic masih mengguncang Gunung Agung, Bali. Dalam laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang disusun oleh I Nengah Wardana mulai pukul 12.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA hari ini, Jumat, 13 Oktober 2017, setidaknya satu kali gempa tremor non-harmonic dirasakan dengan amplitudo 4 milimeter dan durasi 110 detik.

Sementara itu, dalam 12 jam terakhir mulai pukul 06.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA, untuk gempa vulkanik dangkal terekam sebanyak 111 kali, gempa vulkanik dangkal sebanyak 236 kali, dan tektonik lokal 22 kali serta tektonik jauh 1 kali.

Kemarin selama 24 jam, 7 kali gempa tremor non-harmonic mengguncang Gunung Agung. Meski hari ini gempa tremor menurun, namun status gunung tersebut tetap waspada.

Sebelumnya, Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil menjelaskan, tremor non-harmonic sering juga disebut spasmodic burst atau spasmodic tremor.

"Dia adalah rentetan beberapa gempa vulkanik, di mana satu gempa muncul sebelum gempa sebelumnya selesai. Secara fisis merefleksikan aliran fluida magmatik (gas, liquid atau solid)," kata Devy.

Menurutnya, di dunia tak melulu semua tremor seperti ini diikuti letusan. Kecuali, kalau terjadi secara terus menerus. "Manifestasi permukaan bisa hanya berupa pelepasan gas atau asap ke permukaan," jelas dia.

Tremor harmonik, Devy melanjutkan, bisa terjadi jika aliran fluida mengakibatkan bergeraknya conduit dan membuat resonance effect atau efek resonansi.

Diakui Devy, tremor terus menerus (non-harmonic) sering menjadi penanda terakhir sebelum letusan. Tremor menerus (non-harmonic) biasanya menjadi penanda terakhir sebelum letusan terjadi," tutur Devy.

Biasanya, hal itu terjadi berkaitan dengan penghancuran sumbat penutup kawah. Kendati begitu, Devy berharap manifestasi di permukaan hanya berupa gas dan asap saja. "Jadi, tekanan di bawah perut Gunung Agung cepat habis," harapnya. (ase)