Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 2 November 2017 | 13:01 WIB
  • Batu Prasejarah Berukuran Raksasa Ditemukan di Sumbar

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Andri Mardiansyah (Padang)
Batu Prasejarah Berukuran Raksasa Ditemukan di Sumbar
Photo :
  • VIVA.co.id/Andri Mardiansyah
Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya menemukan menhir atau batu prasejarah di Jorong Tanah Longiah, Nagari Sungai Rimbang, Kecamatan Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, pada 1 November

VIVA – Lima menhir atau batu prasejarah berukuran raksasa ditemukan di Jorong Tanah Longiah, Nagari Sungai Rimbang, Kecamatan Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.

Batu yang diperkirakan berasal dari zaman megalitikum itu ditemukan di atas tanah milik Isep, warga kaum Dt Marajo, pesukuan Mandahiling. Ukuran lima menhir disebut paling besar di antara temuan batu sejenis sebelumnya. Ditemukan kali pertama oleh Megi, Ketua Pemuda Nagari Sungai Rimbang.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat menyebut, kelima menhir berukuran raksasa jika dibandingkan dengan sejarah temuan selama ini di provinsi itu. Tim BPCB masih meneliti batu itu dan belum memastikan perkiraan usianya.

“Rabu kemarin kita bergerak ke lokasi untuk memastikan dan meneliti lebih lanjut temuan itu," kata Emi Rosman, Ketua Kelompok Kerja Penyelamatan, Pengamanan, dan Zonasi pada BPCB Sumatera Barat, di Padang pada Kamis, 2 November 2017.

Batu Prasejarah Berukuran Raksasa Ditemukan di Sumatera Barat

Berdasar survei, di lokasi yang berbentuk bukit kecil itu memang terdapat tinggalan benda prasejarah yang disebut menhir. Menhir adalah satu tinggalan megalitik yang cukup banyak sebarannya di Indonesia. Menhir berbentuk bongkahan batu dengan perbandingan bentuk bagian tinggi lebih banyak dibandingkan dengan bagian lebar maupun tebalnya. 

Menurut Dodi Chandra, staf Kelompok Kerja Penyelamatan, Pengamanan dan Zonasi pada BPCB Sumatera Barat, berdasarkan penelitian sementara, ditemui dua menhir dalam posisi berdiri dan tiga lainnya posisi rebah. 

Satu di antaranya berukuran spektakuler selama sejarah temuan menhir di Sumatera Barat, yakni setinggi 4.8 meter dari permukaan tanah, lebar 70-90 sentimeter, dengan ketebalan 70-80 sentimeter.

Arah hadap menhir terlihat ke arah utara (Gunung Sago). Diperkirakan yang tertanam sekira satu hingga 1,5 meter. Menhir lain sepanjang 150-180 sentimeter, lebar 45-67 sentimeter, dan tebal 30-50 sentimeter.

"Dari hasil observasi lapangan, dugaan sementara menhir tersebut bagian dari tanda kubur masa prasejarah,” kata Dodi.

Menhir yang tertinggi itu, kata Dodi, merupakan menhir paling tinggi di Limapuluh Kota. Sebab beberapa situs megalitik di Limapuluh Kota belum didapatkan menhir dalam posisi berdiri yang tingginya lebih empat meter.

Pada masa dahulu kala, Dodi menjelaskan, menhir dibuat sebagai media penghormatan terhadap leluhur atau arwah nenek moyang yang nantinya diharapkan dapat memberikan kesuburan dan keselamatan bagi yang ditinggalkan.
 
Menhir di Limapuluh Kota dalam beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan dua fungsi, yaitu tanda kubur dan sarana pemujaan. Masyarakat setempat menyebutnya batu tagak (batu berdiri). Cukup banyak ditemukan di Limapuluh Kota, bahkan salah satu nagari di Kecamatan Bukit Barisan, yakni Maek, diistilahkan Nagari Seribu Menhir. (mus)