Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 6 November 2017 | 11:42 WIB
  • Cerita Jokowi Dimarahi Petani Jagung di Dompu

  • Oleh
    • Hardani Triyoga,
    • Agus Rahmat
Cerita Jokowi Dimarahi Petani Jagung di Dompu
Photo :
  • VIVA.co.id/Agus Rahmat
Presiden Joko Widodo

VIVA – Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Jokowi menyempatkan memberikan Surat Keputusan (SK) pemanfaatan izin lahan perhutanan sosial, di Kecamatan Dungus Kabupaten Madiun Jawa Timur, Senin pagi, 6 November 2017.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menceritakan saat dirinya dimarahi langsung oleh petani. Ceritanya, ketika Jokowi baru setahun menjabat sebagai Presiden RI pada 2015.

Saat itu, Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Nusa Tenggara Barat (NTB). Di sana, Presiden juga bertatap muka dengan petani jagung dari Kabupaten Dompu. Saat di Dompu itulah Presiden Jokowi kena marah petani jagung.

"Dulu waktu saya ke Dompu di NTB, 2015, banyak yang marah-marah karena jagung (harganya) Rp1.500-Rp1.600," ujar Presiden Jokowi, saat berdialog dengan para petani yang mendapatkan sertifikat izin perhutanan sosial.

Setelah dimarah-marahi petani jagung dari Dompu itu, Jokowi kembali ke Jakarta. Di situ, akhirnya kepikiran untuk membuat Surat Keputusan harga minimal jagung.

SK Presiden Jokowi itu bahwa harga jagung paling rendah harus Rp2.700. Setelah SK itu keluar, petani jagung langsung menuai hasil yang positif. Termasuk, harga jagung di Madiun ini, di mana saat Jokowi menanyakan ke salah seorang petani bernama Basuki yang bisa menjual jagung hingga Rp4.000.

"Kemudian impor jagung disetop. Sudah langsung harga naik," lanjut Jokowi disambut tepuk tangan.

Jokowi mengaku, saat dirinya menjadi Presiden 2014 lalu, impor jagung sudah dilakukan sebanyak 3,6 juta ton. Karena impor itulah, harga jagung dari petani murah.

Kalau murah, lanjut dia, para petani dipastikan tidak ingin menanam jagung. Sehingga setelah SK harga minimal jagung dikeluarkan, petani untung dan pasokan kebutuhan nasional bisa dipenuhi dari dalam negeri.

"Sampai saat ini enggak ada impor. Sudah bisa di suplai oleh produksi di dalam negeri oleh para petani," kata Jokowi.

Meski begitu, harga moderat untuk jagung tetap harus dijaga. Sebab, kalau terlalu tinggi bisa berpengaruh pada kebutuhan pakan ternak, yang mana jagung menjadi salah satu sumber pokoknya.

"Kita patok dulu (harga jagung), justru bisa di atas itu bagus. Tapi jangan harga tinggi nanti pakan ternak ngamuk-ngamuk ke saya," kata Jokowi. (ase)