Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 6 November 2017 | 19:27 WIB
  • Kasus Guru Pukul Siswa Hingga Masuk IGD Berakhir 'Damai'

  • Oleh
    • Eko Priliawito,
    • Bayu Nugraha
Kasus Guru Pukul Siswa Hingga Masuk IGD Berakhir 'Damai'
Photo :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi
Aktivitas belajar mengajar di suatu sekolah. (Ilustrasi)

VIVA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bersama perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mendatangi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Senin 6 November 2017.

Kedatangan KPAI dan KPPPA untuk berkoordinasi terkait kasus kekerasan pada lingkungan pendidikan. Perwakilan KPAI dan KPPPA diterima oleh Dirjen Dikdasmen Kemdikbud, Hamid Muhamad, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat, Ari Santoso dan sejumlah staf Kemdikbud RI. Pertemuan berlangsung sekitar 45 menit.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan, maksud dan tujuan KPAI Kemdikbud RI adalah terkait kasus kekerasan di salah satu SMPN di Pangkal Pinang, Provisi Bangka Belitung dan juga video viral yang diduga terjadi di Pontianak (Kalimantan Barat).

"Terkait kasus Kekerasan di Pangkal Pinang, KPAI juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian PPPA. Menurut hasil penelusuran Dinas PPA kota Pangkal Pinang, kekerasan tersebut memang terjadi di SMPN tersebut oleh salah satu oknum guru, tetapi sudah berakhir damai. Namun kejadian ini tidak terkait dengan video yang viral tersebut," kata Retno kepada VIVA.

Retno menambahkan, Kemdikbud sudah menurunkan tim ke Pangkal Pinang terkait kasus kekerasan yang terjadi di salah satu SMPN Pangkalpinang. Hasil investigasi akan diberikan, baik kepada KPAI maupun Kementerian PPPA.

Terkait video kekerasan pemukulan siswa di kelas yang viral, lanjut Retno, ternyata bukan merupakan kejadian di Pangkalpinang, namun di duga terjadi di tempat lain, diduga di Pontianak.

"Terkait hal ini, Kementerian PPPA dan Kemdikbud akan melakukan penyelidikan untuk memastikan peristiwa tersebut dan akan bertindak sesuai kewenangan yang diamanatkan oleh perundangan," katanya.

Retno pun membeberkan, pertemuan itu juga membahas pencegahan kekerasan di dunia pendidikan pada masa yang akan datang. Kemdikbud menggunakan istilah “Sekolah Aman”, sedangkan  Kementerian PPPA menggunakan istilah “Sekolah Ramah Anak (SRA). Sinergi pihak terkait akan dikuatkan," katanya.

Kedua, pihak Kemdikbud mengusulkan ada grup whatsApp (WA) yang anggotanya terdiri dari Kemdikbud, Kementerian PPPA dan KPAI. Tujuan grup tersebut adalah untuk memudahkan koordinasi terkait berbagai pengaduan kekerasan di pendidikan yang diterima KPAI agar segera dapat diselidiki dan ditindak.

Ketiga, Kemdikbud dan Kementerian PPPA akan berkoordinasi dengan daerah terkait video yang viral yang menurut kabar tidak dilakukan oleh guru tetapi oknum orangtua siswa.

"KPAI menyayangkan orang tua bisa masuk ke dalam sekolah bahkan dalam kelas dan memukuli siswa. KPAI mempertanyakan bagaimana “sekolah aman” bagi anak didik. Namun, karena Kemdikbud juga belum tahu kebenaran kejadian dan lokasi kejadian dalam video tersebut, maka masih akan dilakukan penyelidikan dahulu terhadap video tersebut," katanya.

Keempat, baik KPAI, Kemdikbud maupun Kementerian PPPA sepakat akan meminta bantuan Kemeninfo untuk bisa melacak lokasi kejadian dalam video tersebut.

Kelima, Kementerian PPPA akan berkoordinasi dengan Dinas PPA Kota Pangkal Pinang, agar anak korban  yang mengalami kekerasan dan sudah berdamai tersebut dapat diberikan pemulihan psikologis jika membutuhkannya.

"Keenam, Pihak Kemdikbud juga sepakat bahwa kekerasan di pendidikan tidak diperkenankan terjadi meskipun untuk mendisiplinkan siswa. Menurut Dirjen Dikdasmen Kemdikbud, jika ada oknum guru melakukan kekerasan pada anak maka akan diproses sesuai peraturan perundangan yang berlaku, termasuk di cabut tunjangan profesinya," katanya. (ren)