Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 7 November 2017 | 15:00 WIB
  • Kisah Satu Keluarga Asal Afganistan Tinggal di Warung Mie

  • Oleh
    • Dedy Priatmojo,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Kisah Satu Keluarga Asal Afganistan Tinggal di Warung Mie
Photo :
Keluarga imigran asal Afganistan tinggal di warung mie ayam di Kota Semarang

VIVA – Satu keluarga yang merupakan imigran pencari suaka asal Afganistan terlunta-lunta di Kota Semarang, Jawa Tengah. Selama satu pekan, mereka terpaksa tinggal di sebuah warung mie ayam di kota itu.

Nasib tak mengenakkan itu dialami oleh Muhammad Husein (33), Qudsiah (30) serta tiga putranya yakni Ali Khisoh (9), Ahmad (7) serta Ilyas (3). Mereka merupakan imigran pencari suaka asal kota Ghazni, Afganistan Timur yang sudah tinggal di Indonesia selama empat bulan.

Di Semarang, mereka sebenarnya hendak tinggal di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) di Jl Hanoman Raya. Namun, karena rumah penampungan itu penuh, mereka tak diperbolehkan untuk tinggal. Karena itu, mereka memilih menetap sementara di sebuah warung mie ayam tepat di depan kantor Rudenim.

"Kami sudah empat bulan di Indonesia. Di sini (Semarang) sudah sembilan hari sejak 30 Oktober lalu," kata Muhammad Husein saat ditemui VIVA co.id, Selasa, 7 Oktober 2017.

Kondisi keluarga Husein memang cukup tragis. Setelah ditolak masuk di kantor Rudenim, ia memutuskan untuk tetap tinggal. Selama sembilan hari Husein, isteri dan tiga anaknya terpaksa berteduh di sebuah warung mie ayam 3x4 meter milik seorang warga bernama Sabar.

Di warung beratap plastik itu, mereka hanya menggelar tikar hijau sederhana dengan tumpukan tas yang berisi pakaian.

Saat warung tersebut buka, mereka harus pindah di sebelah warung tanpa atap. Untuk kebutuhan mandi dan ibadah mereka selalu menuju ke sebuah masjid di kampung sekitar. Termasuk urusan makan. Mereka selalu diberi oleh warga sekitar yang merasa iba dengan nasib mereka.

"Saya milih tetap tinggal di sini bersama anak dan isteri. Karena kami memang sudah tidak punya uang," ujarnya.

Husein mengaku, datang dari Bogor ke Semarang dengan menumpangi sebuah bus. Ia mengaku datang ke Indonesia lantaran situasi di Afganistan yang tidak aman. Sementara rumahnya di kota asalnya telah hancur dalam situasi perang beberapa tahun terakhir.

"Saat mau ke Semarang, kami terpaksa jual handphone. Ini Ilyas (putra bungsu) sakit gatal-gatal," ujar dia.

Hj Jaeliani, salah satu warga sekitar mengaku, tak tega melihat kondisi tragis yang dialami satu keluaga asal Afganistan tersebut. Saban hari ia kerap memberikan bekal makanan untuk mereka.

"Ya bagaimanapun kasihan sekali. Apalagi anaknya masih kecil-kecil. Sudah beberapa kali kami tawari tinggal di rumah saya, tapi mereka enggak mau. Katanya takut kalau keluarga saya dapat masalah," kata dia.

Over Kapasitas

Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Rudenim Semarang, Dwi Alfa Novando menyebut, keluarga asal Afganistan itu datang ke Indonesia mengantongi sertifikat United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Sertifikat ini sendiri menjamin mereka mendapat keamanan, mencari suaka dan mendapat tempat yang aman di negara lain.

Dwi terpaksa tidak bisa menampung satu keluarga tersebut lantaran kondisi penampungan di kantornya telah over kapasitas. Sejak awal, ia mengaku telah meminta keluarga itu untuk kembali ke Bogor.

"Kejadian ini tak hanya sekali. Tapi sudah sering. Bagaimanapun kita tetap menolak karena kapasitas kita cuma bisa nampung 60 orang. Saat ini sudah 140 orang " ujar Dwi.

Menurut dia, dari 13 kantor Rudenim di Indonesia, Semarang menjadi lokasi buruan para imigran lantaran memiliki kebijakan dengan memperbolehkan para imigran untuk keluar penampungan.

"Makanya sini jadi rujukan. Tapi kita tegas sudah tidak menampung imigran pencari suaka lagi, " katanya. Ia berharap, imigran Afghanistan kembali ke komunitas mereka di Bogor. (mus)