Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 10 November 2017 | 09:48 WIB
  • Pesan untuk 'Kids Zaman Now' di Hari Pahlawan

  • Oleh
    • Dusep Malik
Pesan untuk 'Kids Zaman Now' di Hari Pahlawan
Photo :
  • VIVA.co.id/Agus Rahmat
Pemerintah berikan As'ad Syamsul Arifin gelar Pahlawan Nasional

VIVA – Hari Pahlawan tahun ini harus diperingati dan dimaknai sesuai dengan perkembangan zaman. Sehingga selain menghormati para pahlawan bangsa yang telah gugur memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, momen ini juga dapat membangkitkan rasa cinta Tanah Air lebih dalam. 

Pengamat militer dan intelijen dari Universitas Pertahanan, Susaningtyas Kertopati, mengatakan di era keterbukaan dan digital saat ini seluruh bangsa harus dapat menangkap perkembangan dan perubahan karakter bangsa.

Sehingga, kemampuan deteksi dini dan cegah tangkal pun harus dimiliki masyarakat, utamanya generasi milenial dalam menghadapi budaya asing yang berlawanan dengan Pancasila. 

Menurut dia, saat ini sangat disayangkan kemampuan generasi muda yang begitu maju dalam mengikuti kemajuan teknologi tidak disertai dengan pengetahuan yang mumpuni terkait wawasan kebangsaan dan Pancasila. Bahkan, generasi muda menjadi lebih mudah menerima ideologi atau budaya dari luar negeri yang tak sesuai Pancasila.

"Anak muda saat ini yang populer dengan 'Kids Zaman Now' bisa menjadi pemangku serta pelaku persatuan kesatuan bangsa yang piawai jaga kedaulatan NKRI asalkan dapat pendidikan dan pemahaman utuh di sekolah dan rumah terkait cinta Tanah Air, serta kewaspadaan ajaran radikal dan terorisme," jelas Susningtyas dalam keterangan tertulisnya kepada VIVA, Jumat, 10 November 2017.

Untuk itu, dalam menjaga keutuhan tersebut, para pemangku kepentingan dan berbagai tokoh masyarakat, agama, politik termasuk tokoh pemuda harus serentak mengamankan kedaulatan NKRI di segala lini dan aspek kehidupan berbangsa.

"Anak muda kita yang kini tak lepas dari gadget tentu harus diajak menjaga kebhineka tunggal ikaan bangsa dan negara kita. Apalagi pada saat ini tatkala perkembangan medsos sudah berbeda dengan lima tahun lalu, saat ini suatu keadaan di mana daya tarik emosional lebih berpengaruh dalam membentuk opini publik daripada fakta yang objektif. Hal ini sangat rentan bagi munculnya disintegrasi bangsa bila tidak dijaga," tegasnya. 

Selain itu, dialog antargenerasi dalam bahasan-bahasan wawasan nusantara yang kekinian penting dilaksanakan oleh lembaga negara dan kementerian negara. Sehingga, harus ada terobosan komunikasi yang mengedepankan interoperabilitas dan terintegrasi untuk menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara. (ase)