Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 10 November 2017 | 12:25 WIB
  • Menguak Misteri Batu Kocak dari Hutan Bojonegoro

  • Oleh
    • Lis Yuliawati,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Menguak Misteri Batu Kocak dari Hutan Bojonegoro
Photo :
  • VIVA.co.id/ Dwi Royanto (Semarang)
Batu kocak dipamerkan di pameran keris nusantara di Museum Ronggowarsito Semaran

VIVA – Sejumlah pengunjung pameran keris nusantara di Museum Ronggowarsito Semarang, Jawa Tengah, takjub dengan batu yang diperkirakan berusia ratusan tahun. Batu misterius berwarna putih itu akrab disebut sebagai batu Kocak atau Mekocak.

Batu Kocak terpajang rapi di gerai Sekar Sari Rumah Antik milik Moh Yusuf (45), warga Kediri, Jawa Timur. Ada lima batu Kocak dibawa untuk dipamerkan serta dijual kepada para kolektor barang antik di kota lumpia.

Yusuf mengatakan, batu Kocak menjadi barang langka yang banyak diburu kolektor selama ini. Ia mendapatkan batu Kocak dari sejumlah pemburu barang antik di Jawa Timur. "Batu Kocak ini unik. Dari namanya, batu ini kalau dipegang bunyi, seperti ada batu lain di dalamnya. Asalnya dari hutan di gunung Bojonegoro," kata Yusuf kepada VIVA, Jumat, 10 November 2017.

Ia mengemukakan, batu Kocak banyak dicari para pemburu dari Bali. Berdasarkan kepercayaan sejumlah masyarakat di Pulau Dewata, batu kocak kerap dibuat untuk azimat. Sementara sebagian orang Jawa yang percaya metafisika, batu Kocak dipercaya sebagai penangkal tolak balak, bencana alam serta gangguan gaib. "Biasanya menetralkan tempat angker. Orang banyak menggunakan saat bangun rumah atau gedung-gedung," katanya. 

Sampai saat ini, Yusuf mengaku belum mendapatkan literatur ilmiah terkait terbentuknya batu Kocak tersebut. Ia memprediksi, batu Kocak terbentuk dari tanah yang telah memfosil sehingga memiliki fisik yang berlapis-lapis.  "Batu ini kalau jatuh pecah. Di dalamnya berlapis-lapis, paling tengah mengkristal warna kekuningan dan keabu-abuan. Sehingga timbulkan bunyi kalau digerakkan," ujarnya.

Untuk menemukan batu Kocak tidak mudah. Orang harus menggali tanah  hingga puluhan meter. "Biasanya batu ini ditemukan bersama fosil-fosi lain seperti kerang dan keong purba. Usianya ratusan hingga ribuan tahun," kata pria yang menjadi penjual dan kolektor barang antik sejak 2011 itu.

Langka dan sulitnya mendapatkan batu Kocak membuat harganya cukup mahal. Kepada para kolektor, ia menjual batu tersebut Rp150 ribu per buah. 

Selain batu kocak, Yusuf juga mengoleksi sejumlah barang antik lain, seperti mustika kayu atau gono kayu, mustika gading, ratusan patung Hindu dan Budha, uang kuno serta aneka keris era kerajaan Majapahit, Pajajaran, Mataram hingga keris baru. "Paling mahal saya punya patung keramik mini Dewi Kwan Im asal China harganya Rp10 juta," ujarnya. (mus)