Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 10 November 2017 | 18:08 WIB
  • Warga Papua Diduga Diculik Kelompok Bersenjata

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Banjir Ambarita (Papua)
Warga Papua Diduga Diculik Kelompok Bersenjata
Photo :
  • VIVA.co.id/Banjir Ambarita
Juru Bicara Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Ahmad Mustofa Kamal, di Jayapura pada Rabu, 22 Februari 2017.

VIVA – Seorang warga Papua dikabarkan hilang dan diduga diculik kelompok bersenjata pada Jumat, 10 November 2017. Identitasnya diketahui bernama Martinus Beanal, warga Banti, Kampung Utiniki, Tembagapura, areal PT Freeport, Timika, Papua.

"Berdasarkan laporan dan informasi dari masyarakat bahwa salah satu dari masyarakat Kampung Utikini, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, atas nama Martinus Beanal, telah diculik oleh kelompok kriminal bersenjata,” kata juru bicara Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Ahmad Mustofa Kamal.

Berdasarkan laporan keluarga, Martinus Beanal tidak pulang ke rumah selama dua hari. Polisi masih menyelidiki informasi atau laporan itu dan belum memastikan benar-benar diculik.

Kepala Polda Papua, Inspektur Jenderal Polisi Boy Rafli Amar, juga menanggapi seputar video tentang penganiayaan warga sipil oleh kelompok bersenjata. Dia menyesalkan peristiwa itu dan menyelidiki kasus itu.

“Satgas Terpadu Penanggulangan Gangguan Kelompok Kriminal Bersenjata masih terus melakukan upaya persuasif untuk membebaskan ratusan warga yang disandera, baik di sekitar Kampung Kimberly, Kampung Utikini, maupun Kampung Banti tanpa menimbulkan korban jiwa dari masyarakat,” kata Boy.

Berdasarkan informasi yang didapat bahwa masyarakat setempat dan pendatang yang meminta perlindungan kepada kepala suku ialah warga yang tergabung dari kampung longsoran hingga Kampung Banti, Distrik Tembagapura. Stok bahan makanan di kampung itu dikabarkan sudah menipis.

Kelompok bersenjata yang menyandera warga diperkirakan memiliki 30 pucuk senjata api, yang merupakan hasil rampasan dari TNI dan Polri. Selain itu, mereka mempersenjatai diri dengan senjata tradisional, seperti panah.

Polisi masih berupaya bernegosiasi dengan kelompok bersenjata itu melalui para tokoh masyarakat setempat agar warga sipil tidak menjadi korban.