Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 11 November 2017 | 05:44 WIB
  • Keluarga: Suami Dokter Letty Kerap Ancam Akan Membunuh

  • Oleh
    • Harry Siswoyo,
    • Foe Peace Simbolon
Keluarga: Suami Dokter Letty Kerap Ancam Akan Membunuh
Photo :
  • istimewa
Dokter Helmi, pelaku pembunuhan terhadap dokter Lety Sultri

VIVA – Dokter Ryan Helmi ternyata sudah sejak lama mengumbar ancaman akan membunuh istrinya dokter Lety Sultri. Ini terjadi setelah gugatan perceraian pasangan suami istri itu masuk ke pengadilan sejak Juli 2017.

"Selama proses (cerai) berlangsung, pelaku telah beberapa kali mengancam akan membunuh almarhumah dan keluarga," ujar  Maya Savira Hosen, adik kandung dari dr Lety Sultri saat dihubungi, Jumat, 10 November 2017.

Diakui Maya, kakak perempuannya itu memang kerap mengeluhkan kekerasan yang dialaminya selama menjalani biduk rumah tangga dengan dr Ryan Helmi.

Atas itulah, ia pun memutuskan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Namun proses yang diajukan pada bulan Juli itu baru akan diputuskan pada November, atau tepat di bulan dr Lety tewas di tangan suaminya sendiri.

Sulit komunikasi

Sementara itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menyebutkan, dari pemeriksaan terhadap Helmi, ia mengaku jika selama proses cerai itu dirinya kesulitan berkomunikasi dengan Lety.

"Pelaku tak bisa menghubungi korban terus. Komunikasi enggak bisa terus," kata Argo di Jakarta.

Karena itulah, pelaku pun nekat mendatangi klinik dr Lety di Jakarta Timur dan membawa senjata api. Awalnya ia hendak berbicara dengan Lety, namun akhirnya pertemuan itu berujung maut.

dr Lety tewas dengan enam tembakan di tubuh oleh suaminya yang telah menikahinya selama lima tahun.

Helmi sendiri sampai sekarang masih terus diperiksa intensif. Pria berambut botak itu ditahan di Markas Polda Metro Jaya.

"Kami belum selesai semua untuk pemeriksaan masih kami lakukan. Intinya yang bersangkutan itu, selama berumah tangga dengan korban selama lima tahun ini, ada ketidakharmonisan," kata Argo. (ase)