Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 15 November 2017 | 15:45 WIB
  • Rawan, Pilkada Jawa Timur Diawasi Khusus Pasukan Siber

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Nur Faishal (Surabaya)
Rawan, Pilkada Jawa Timur Diawasi Khusus Pasukan Siber
Photo :
  • VIVA/Nur Faishal
Kepala Polda Jawa Timur, Inspektur Jenderal Polisi Machfud Arifin, menyapa aktivis media sosial penyandang disabilitas saat pertemuan bersama netizen di Surabaya, pada Rabu, 15 November 2017.

VIVA – Kepolisian Daerah Jawa Timur dibantu Tentara Nasional Indonesia dari Komando Daerah Militer V Brawijaya mengawal pelaksanaan pemilihan kepala daerah serentak pada 2018. Bukan hanya kekuatan fisik atau nyata, polisi juga menyiagakan pasukan siber untuk memantau ujaran kebencian di dunia maya. Gangguan pilkada lewat media sosial akan ditindak. 

Dalam sepekan terakhir, Kepala Polda Jatim, Inspektur Jenderal Polisi Machfud Arifin, menyosialisasikan kekuatan institusinya dalam mengamankan pilkada serentak 2018. Pertama saat rapat koordinasi bersama Forum Komunikasi Daerah dan ratusan jajaran aparatur di bawah, dari kabupaten/kota hingga kecamatan, di Grand City Surabaya, Senin, 13 November 2017.

Pada kesempatan ini, Machfud menyampaikan jumlah personel, perangkat teknis pengamanan, pemetaan daerah pelaksana pilkada rawan konflik, juga kategori pelanggaran pilkada yang bakal ditindak secara pidana. Dia juga memaparkan potensi gangguan dari dunia maya, karena itu disiapkan pasukan patroli siber.

Pada Rabu, 15 November 2017, Polda memantapkan patroli siber itu dengan mengumpulkan personel jajaran Kepolisian Resor dan aktivis media sosial di Ballroom Whyndam Surabaya. Dibuka Kapolda, acara berformat seminar itu diisi, di antaranya, pakar komunikasi Unair, Suko Widodo, dan pengurus AMSI Jatim, Imam Syafii.

"Kita berharap para netizen dan pengguna internet menyebarkan yang positif, yang tidak jelek-jelekkan orang lain, yang tidak mengadu domba. Kita rangkul semua netizen yang cinta perdamaian, yang cinta menjaga hubungan baik dengan hati bersih demi menjaga Jawa Timur. Itu saja," ujarnya.

Mantan Kepala Divisi Teknologi Informasi Mabes Polri itu mengatakan, peran netizen yang baik dan cinta damai diperlukan apalagi dalam waktu dekat momentum besar akan berlangsung di Jawa Timur. Momen terdekat ialah perayaan Natal dan Tahun Baru dan beberapa bulan kemudian pilkada serentak.

"Apalagi tahun ini adalah tahun-tahun politik, ada black campaign; jelek-jelekkan calon lain, dan macam-macam," ujar Machfud. Dia menyebut tanda-tanda gangguan Pilkada Jatim melalui medsos sudah ada. Tetapi dia memastikan Jatim tetap kondusif. "Polda ada patroli siber dua puluh empat jam."

Di dunia nyata, Machfud menuturkan dua per tiga kekuatan Polda Jatim dibantu prajurit TNI siap mengamankan Pilkada serentak di Jatim 2018. Secara umum, personel pengamanan dikerahkan untuk dua tahap Pilkada, yakni tahap persiapan dan pelaksanaan.

Total personel pengamanan pilkada serentak sebanyak 120.999 orang. Rinciannya, 27.840 personel Polri, 6.210 personel TNI dan 86.949 orang dari Perlindungan Masyarakat.

Personel Polri paling banyak dikerahkan pada tiga tahapan, yakni 16.886 personel saat kampanye, 27.840 personel saat pemungutan suara, dan 18.794 personel saat penghitungan suara di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan. Tahapan yang lain dikawal personel Polri dan lainnya dengan jumlah yang lebih sedikit. Semua personel disebar di seluruh daerah pelaksana Pilkada Jatim.

Pilkada serentak 2018 di Jatim jadi perhatian. Ada 18 kabupaten/kota yang bakal menggelar Pilkada plus Pilgub Jatim. Yang paling disorot ialah Pilgub Jatim. Kontestasi politik ini akan mempertemukan duet Saifullah Yusuf alias Gus Ipul-Abdullah Azwar Anas dan Khofifah Indar Parawansa. Satu lagi yang rajin mencari dukungan, yakni La Nyalla Mattalitti.