Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 26 November 2017 | 12:57 WIB
  • Korban Sandera Tembagapura Alami Kecemasan Berlebihan

  • Oleh
    • Beno Junianto
Korban Sandera Tembagapura Alami Kecemasan Berlebihan
Photo :
  • dok.ist Kemensos
Mayoritas Korban Sandera Alami Cemas Berlebihan

VIVA – Hasil rapid assessment yang dilakukan Tim Layanan Dukungan Psikososial Kementerian Sosial menunjukkan bahwa para penyintas, atau sandera di Kecamatan Tembagapura masih mengalami cemas dan rasa takut berlebihan. Mereka masih merasa trauma dengan ancaman yang sempat dilakukan oleh para anggota kelompok bersenjata.

"Anak-anak ketakutan mendengar suara keras, seperti suara teriakan dan mereka akan segera berlari," ujar Koordinator LDP Milly Mildawati melalui keterangan tertulisnya kepada VIVA, Minggu 26 November 2017.

Pengalaman yang dialami anak-anak selama penyanderaan ketakutan mendengar suara tembakan, kekurangan pasokan makan, karena akses keluar masuk desa dijaga oleh kelompok kriminal bersenjata.

Sedikitnya ada 1.300 orang dari dua desa, yakni Desa Kimbely dan Desa Banti, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, dilarang keluar dari kampung itu oleh kelompok kriminal bersenjata sejak Kamis 9 November 2017.

Setelah aparat TNI dan Polri berhasil mengevakuasi warga dari Kampung Banti dan Kimbeli di Distrik Tembagapura, Kementerian Sosial segera menurunkan Tim LDP ke lokasi pengungsian untuk melakukan pendampingan kepada korban penyanderaan.

Tim LDP terdiri dari Tim Kementerian Sosial RI, Sakti Peksos Kab. Mimika, guru, relawan 1.000 guru untuk Papua, Pramuka, PMI, Tagana, dan Relawan Pekerja Sosial.

"Setelah dilakukan LDP, warga merasa tenang di pengungsian, setelah sebelumnya selalu merasa ketakutan dalam masa penyanderaan,” ujar Milly.

Kebutuhan makan tercukupi, lanjut Milly, setelah selama hampir dua minggu kekurangan makan karena akses keluar masuk desa dijaga oleh Kelompok Bersenjata. Untuk pemenuhan kebutuhan makan, disesuaikan dengan kebiasaan makan sehari-hari di pegunungan, seperti ubi-ubian, ayam dan lalapan.

Warlex (9 tahun) merasa senang dapat mengungkapkan perasaannya, ia bisa makan dengan tenang dan melakukan aktivitasnya kembali. "Saya sangat gembira, bisa menulis apa yang saya rasakan. Saya ingin segera pulang ke rumah, agar bisa main bola dengan teman-teman", ungkap Warlex.

Milly pun menceritakan sempat digelar upacara bakar batu di tempat pengungsian. Upacara tersebut merupakan kearifan lokal dilakukan sebagai simbol dan bentuk rasa syukur dari penerimaan masyarakat Timika terhadap penyintas yang berasal dari Desa Banti dan Kimbeli.

"Kegiatan diikuti oleh semua penyintas dan bisa mengurangi kecemasan dan ketakutan mereka, dan juga memberikan rasa tenang, karena sudah secara adat diterima oleh masyarakat Timika", ungkap Milly.