Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 27 November 2017 | 13:43 WIB
  • Warga Sekitar Gunung Agung Akan Dievakuasi Paksa

  • Oleh
    • Eko Priliawito,
    • Bayu Nugraha
Warga Sekitar Gunung Agung Akan Dievakuasi Paksa
Photo :
  • ANTARA Foto/Nyoman Budhiana
Banyak warga menolak dievakuasi akibat erupsi Gunung Agung di Bali.

VIVA – Sebanyak 100 ribu warga yang berasal 22 desa terkena dampak langsung akibat erupsi Gunung Agung di Bali. Mereka terpaksa harus mengungsi hingga waktu yang belum ditentukan.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, desa yang terdampak langsung adalah Desa Ababi, Pidpid, Nawakerti, Datah, Bebandem, Jungutan, Buana Giri, Tulamben, Dukuh, Kubu, Baturinggit, Ban, Sukadana, Menanga, Besakih, Pempatan, Selat, Peringsari, Muncan, Duda Utara, Amertha Bhuana, dan Sebudi.

"Dari 22 desa tersebut ada sebanyak 90 hingga 100 ribu warga yang harus diungsikan," kata Sutopo di kantor BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Senin 27 November 2017.

Seluruh desa tersebut adalah desa yang berada di radius 8-10 kilometer dari puncak Gunung Agung. Saat ini, sekitar 40 ribu penduduk sudah dievakuasi sejak 25 November 2017.

"Dan hari ini kami belum dapat datanya," ujarnya.

Hingga kini masih banyak yang belum mengungsi dengan berbagai alasan. Banyak warga yang merasa masih aman. Alasan lain karena mereka tidak bisa meninggalkan hewan ternak.

Ia pun menegaskan, jika nantinya erupsi Gunung Agung terus meningkat, pemerintah akan melakukan evakuasi paksa agar masyarakat tidak terkena dampak erupsi Gunung Agung.

"Saat ini belum semua masyarakat mengungsi dengan berbagai macam alasan, yakni ternaknya, merasa masih aman dan alasan lain. Kami akan melakukan penyisiran terus dan kalau perlu evakuasi paksa," katanya.

Sementara itu, untuk hewan ternak warga, dari data sementara yang ia dapat masih ada ribuan hewan ternak sapi, babi, dan kambing yang berada di zona berbahaya.

"Pada status siaga, perkiraan pada saat itu 14 ribu ekor hewan. Yang sudah dievakuasi sejak status awas bulan September lalu ada 8.543 ekor ternak di 43 titik. Sekarang sudah lebih 5 ribu lebih ternak. Kami terus kirim kendaraan-kendaraan untuk melakukan evakuasi," katanya.