Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 28 November 2017 | 20:39 WIB
  • Jalur Yogya-Wonosari Ditutup karena Banjir

  • Oleh
    • Eko Priliawito,
    • Daru Waskita (Yogyakarta)
Jalur Yogya-Wonosari Ditutup karena Banjir
Photo :
  • Daru Waskita
Jalan utama yang menghubungkan Yogyakarta - Wonosari dialihkan karena banjir

VIVA – Hujan deras disertai angin yang berlangsung selama dua hari terakhir menyebabkan debit air Sungai Oya, Gunungkidul, meluap hingga ke jalan. Akibatnya akses jalan utama yang menghubungkan Yogyakarta menuju Wonosari terpaksa dialihkan.

Air Sungai Oya yang terletak di perbatasan Kecamatan Playen dan Kecamatan Patuk meluap hingga melampaui jembatan dan meluap ke jalanan karena sungai tak mampu menampung debit air.

Wakapolres Gunungkidul Kompol Verena Sri Wahyuningsih mengatakan, pengalihan lalu lintas dilakukan dari arah timur perempatan Hading ke kanan menuju ke Karangtengah, kiri menuju ke Nglipar langsung Sambipitu menuju arah Yogyakarta.

"Untuk pengendara dari arah Yogyakarta ditutup sejak Sambipitu menuju Nglipar, Karangtengah, kiri ke Gading," ujarnya.

Kasat lantas Polres Gunungkidul AKP Mega Tetuko menambahkan, perkembangan yang ada di lapangan memastikan ruas jalan ditutup. Akibat luapan air sungai ini, praktis jalur Yogyakarta-Wonosari sulit dilewati.

"Kita tutup sementara dan ada pengalihan jalur," ujarnya.

Lima kecamatan dilanda banjir

Sedikitnya lima kecamatan di Kabupaten Kulonprogo dilanda banjir. Tanah longsor dan pohon tumbang dalam skala ringan hingga sedang juga dilaporkan terjadi.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kulonprogo Bambang Haryatno, guna mengantisipasi adanya korban, sebanyak 21 Puskesmas disiagakan. Puskesmas yang harus siaga itu berada di 12 kecamatan.

“Semuanya harus siap melayani pasien baik korban banjir, longsor atau lainnya,” katanya, Selasa, 28 November 2017.

Dinkes Kulonprogo juga memastikan ketersediaan obat, makanan cepat saji dan mekanisme penanganan pasien.

“Stok obat yang ada di puskesmas sudah ditambah, dan kondisinya sangat aman. Kami juga menyediakan kebutuhan makanan siap saji, khususnya di puskesmas yang berada di wilayah potensi bencana," ujarnya.

Ia mengakui hingga Selasa malam 28 November 2017, belum ada laporan adanya korban bencana di Kulonprogo yang harus mendapat perawatan di puskesmas.

“Kami sudah meminta laporan dari puskesmas, seperti di Kecamatan Kokap, di mana ada pondok pesantren yang tertimpa tanah longsor. Hasilnya, masih nihil,” katanya.

Namun demikian, kata Bambang, pihaknya telah memerintahkan petugas puskesmas dan kader kesehatan untuk mengantisipasi munculnya penyakit, seperti diare, batuk hingga leptospirosis.

Kepala Pelaksana BPBD Kulon Progo Gusdi Hartono mengatakan, koordinasi dengan Dinkes terkait persiapan petugas kesehatan di lapangan dan obat-obatan yang dibutuhkan telah dilakukan.