Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 29 November 2017 | 17:09 WIB
  • Satelit NASA Rekam Suhu 97 Megawatt di Kawah Gunung Agung

  • Oleh
    • Bayu Adi Wicaksono,
    • Bobby Andalan (Bali)
Satelit NASA Rekam Suhu 97 Megawatt di Kawah Gunung Agung
Photo :
  • Bobby Andalan (Bali)
Gunung Agung meletus.

VIVA – Satelit NASA Modis milik Amerika Serikat baru saja merekam peningkatan thermal atau suhu panas di permukaan kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil perekaman satelit itu, tercatat suhu panas di kawah sampai dalam level high atau tinggi. 

Menurut Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Devy Kamil Syahbana, Satelit NASA Modis mencatat suhu panas mencapai lebih dari 90 megawatt. Padahal saat pertama kali terpantau pada 27 November 2017, suhu panas hanya berkisar 70 megawatt.

"Kalau dilihat dari energi thermal lava yang ada di permukaan tiga hari lalu nilainya  51 megawatt vulkanik radiatif power (VRP). Kemarin malam jumlahnya sudah hampir 2 kalinya yakni 97 megawatt VRP. Artinya adanya pertumbuhan energi thermal di permukaan kawah," ujar Devy di Pos Pengamatan Gunung Api Agung di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu 29 November 2017.

Devy menuturkan, peningkatan suhu panas itu merupakan pertanda bahwa lava di permukaan gunung berketinggian 3.142 mdpl terus tumbuh. "Terjadi pertumbuhan lava di dalam kawah Gunung Agung terus tumbuh di lantai atau dasar kawah," ujarnya. 

FOTO: Diagram hasil perekaman satelit NASA Modis

Dan jika suhu panas itu terus meningkat, maka berpotensi terjadinya letusan besar. "Kedua, dia berpotensi menghasilkan letusan. Dalam kondisi over pressure, ketika magma di bawah permukaan terakumulasi tekanan, maka ketika dia melepaskan tekanan material dapat terlontar berupa dalam bentuk lontaran batu maupun abu," ujarnya.

Devy mengatakan, mungkin banyak warga bertanya jika malam terlihat ada cahaya terang di kawah Gunung Agung. 

"Ini adalah vulkanik glow diakibatkan oleh lava yang sudah ada di permukaan. Kita tidak perlu membuktikan naik ke atas untuk melihat ada atau tidak lavanya, tapi kita kan punya teknologi satelit. Satelit sudah merekam adanya lava di permukaan dan ada dan sudah berada di dasar kawah semakin tumbuh terus jumlah lavanya semakin banyak," kata dia.

Baca: Abu Gunung Agung di Bawah 6.000 Mdpl, VONA Turun Oranye