Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 29 November 2017 | 17:43 WIB
  • PVMBG Jelaskan Alasan Gunung Agung Belum Meletus Besar

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Bobby Andalan (Bali)
PVMBG Jelaskan Alasan Gunung Agung Belum Meletus Besar
Photo :
  • ANTARA Foto/Fikri Yusuf
Aktivitas-erupsi Gunung Agung

VIVA – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG sudah memprediksi Gunung Agung akan meletus besar dalam hitungan jam setelah dihantam tremor over scale, yang berarti tak bisa lagi tercatat karena melebihi kapasitas.

Berdasarkan perhitungan PVMBG, ketika terekam gempa vulkanik yang cukup besar beberapa kali, maka dalam hitungan jam bisa diikuti letusan besar. Namun letusan eksplosif atau letusan besar seperti yang diperkirakan itu belum terjadi hingga kini.

"Penentunya vulkaniknya, bukan tremor over scale-nya. Tremor yang over scale-nya itu wujud dari letusan itu sendiri," kata Devy Kamil Syahbana, Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, di Kabupaten Karangasem, Bali, pada Rabu, 29 November 2017.

Rupanya, kemarin telah terjadi letusan dengan skala yang masih rendah, yang disebut volcanic eruption index (VEI) sekitar skala II atau bahkan kurang dari itu.

"Di Gunung Agung ini sekarang gempa vulkanik beberapa kali saja sudah bisa memicu letusan. Tidak perlu ratusan bahkan ribuan yang terekam seperti September-Oktober. Magnitude-nya, bukan amplitudo-nya," katanya.

"Dengan magnitude dua saja sudah bisa memicu letusan. Dua skala richter itu sudah bisa meletus. Kemarin begitu, gempa dua skala richter sudah terjadi letusan," ujarnya.

Itu karena saat ini Gunung Agung sudah terbuka. Sumbat lava yang terbentuk akibat letusan tahun 1963 berhasil dijebol magma. "Gempa besar yang bisa kita rasakan pada September-Oktober itu tahap pembukaan celah. Saat itu, kita memprediksi ketika mengalami akselerasi dengan peningkatan eksponensial bisa terjadi letusan. Tapi ternyata tidak terjadi. Itulah kompleksitas gunung api. Tapi ketika energinya cenderung turun, jumlah gempanya cukup banyak," katanya.

Gempa itu, kata Devy, merefleksikan dari volume interusi magma. "Saat itu kita hitung ada 39 juta meter kubik. Walaupun dulu energinya berkurang, deformasi cenderung melambat, tapi jangan lupa di perut Gunung Agung sudah terdapat magma yang suatu saat bisa ke luar," ujarnya.

Seberapa pihak saat itu menduga letusan Gunung Agung akan terjadi beberapa tahun berikutnya alias tidak jadi meletus. "Tapi ternyata terjadi sekarang. Tanggal 21 November kemarin itu pukul 17.05 WITA terbuka juga (sumbat lava). Ada yang lolos ke permukaan, warnanya abu-abu. Itu artinya sudah ada penerobosan sumbat lava tahun 1963," katanya.

"Lubang bru tercipta dengan diameter 100 meter. Kemudian pada letusan tanggal 25 November lalu diameter lubangnya menjadi 291 meter. Melebar dia. Kemarin, letusannya lebih besar lagi," ujar Devy.