Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 29 November 2017 | 23:13 WIB
  • Lontaran Batu Gunung Agung Disebut Hoaks, Ini Respons PVMBG

  • Oleh
    • Rendra Saputra,
    • Bobby Andalan (Bali)
Lontaran Batu Gunung Agung Disebut Hoaks, Ini Respons PVMBG
Photo :
  • ANTARA Foto/Fikri Yusuf
Aktivitas-erupsi Gunung Agung

VIVA – Gunung Agung, Selasa, 28 November 2017, kembali meletus setelah diguncang tremor over scale selama setengah jam, mulai dari 13.30 Wita hingga pukul 14.00 Wita. Bersamaan letusan itu, gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut tersebut melontarkan batuan panas lebih besar dari kepalan tangan.

Namun, hal itu buru-buru dibantah berbagai pihak, salah satunya oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang melakukan teleconference dengan Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan.

Dengan tegas, mantan kapolda Bali itu menyebut, lontaran batuan panas dengan suhu 500 derajat celsius itu hoaks. Lantas, bagaimana respons Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)?

Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana menjelaskan, lontaran batu itu terekam dalam gambar yang diterima oleh institusinya.

"Lontaran batu kemarin, kami menerima gambar yang mengindikasikan lontaran batu," ujar Devy di Pos Pengamatan Gunung Api Agung, di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu, 29 November 2017.

Devy belum bisa memastikan langsung ke lokasi karena masuk radius bahaya. “Kami belum bisa memastikan sampai saat ini kenapa, kami belum berani ke sana. Nanti kalau sudah berani kami akan ke sana," ujarnya.

Hanya saja yang patut disadari, Devy melanjutkan, letusan kemarin cukup besar dengan Volcanic Explosivity Index (VEI) atau indeks eksplosivitas gunung api skala dua. Saking besarnya, hingga over scale, alias alat perekam gempa tak mampu merekam gempa tremor. "Amplitudonya melebihi kapasitas," tuturnya.

Dalam kondisi demikian, lontaran batu berpotensi terjadi. "Dalam rekomendasi kami, lontaran batu sangat memungkinkan. Terjadi atau tidak, kami tidak perlu meributkan hal itu. Tapi kami perlu menyampaikan potensi itu ada," tuturnya.

"Masalah nanti batunya beneran atau tidak, itu nanti saja di akhir krisis kami cari ke sana batunya. Sekarang dalam kondisi saat ini yang perlu masyarakat tahu di dalam zona bahaya ancaman lontaran batu itu ada," ujar dia.