Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 30 November 2017 | 01:04 WIB
  • Korban Banjir dan Longsor di Pacitan Bertambah

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Nur Faishal (Surabaya)
Korban Banjir dan Longsor di Pacitan Bertambah
Photo :
  • ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko
Kondisi Pacitan Saat Dilanda Banjir Bandang dan Tanah Longsor

VIVA – Korban bencana banjir dan longsor di empat kecamatan Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, bertambah. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat menyebutkan, hingga Rabu sore, 29 November 2017, total jumlah korban meninggal dan belum ditemukan sebanyak 13 orang.
 
Data yang dikeluarkan BPBD Pacitan menyebutkan, korban meninggal karena banjir sebanyak tiga orang yang berasal dari Kecamatan Pacitan. Mereka ialah Maryati, warga Desa Kayen; Mujiono, warga Desa Sukoharjo; dan Mislan, warga Desa Sirnoboyo. Satu korban banjir belum ditemukan bernama Amri.
 
Adapun korban meninggal dunia karena tertimbun material longsor di Kecamatan Kebonagung berjumlah empat orang. Yakni Darto, warga Desa Sanggrahan; Temu (57 tahun), warga Desa Klesem; Siti Kamilah (22), warga Desa Klesem; dan Fitri (3), warga Desa Klesem.
 
Adapun korban longsor Kebonagung belum ditemukan sebanyak lima orang. Mereka ialah Parno (73), warga Desa Klesem; Sukesi (41), warga Desa Klesem; Rozak (17), warga Desa Klesem; Kasih (70), warga Desa Klesem; dan Katemi, warga Desa Sanggrahan. “Total korban 13 orang,” kata petugas dari BPBD Pacitan, Dian Nita, melalui pesan singkat kepada VIVA.
 
Di bagian lain, banjir dan longsor di Pacitan menyebabkan beberapa desa sempat terisolasi. Akses masuk ke beberapa desa terdampak terputus akibat tertimbun material longsoran di beberapa titik. Listrik juga padam. Banjir juga dilaporkan merambat ke beberapa desa di Kabupaten Ponorogo.
 
Kendati begitu, petugas gabungan dan relawan tetap berupaya sehingga bantuan logistik untuk korban terdampak di tempat pengungsian tetap sampai. Leader Emergency dari Aksi Cepat Tanggap atau ACT, Lukman Solehuddin, menjelaskan, sebagian tim ACT dan bantuan berhasil sampai di Pacitan melalui Ponorogo.
 
Ada 13 desa di Pacitan yang terisolasi dan empat ribu jiwa dievakuasi di posko-posko pengungsian. 

“Dapur umum ACT didirikan di posko pengungsian,” kata Lukman kepada VIVA melalui keterangan tertulis.
 
Banjir dan longsor melanda empat kecamatan di Pacitan sejak Selasa dini hari, 28 November 2017. Intensitas hujan yang mengguyur Pacitan pada Senin tak mampu ditampung Sungai Gindilu dan anakannya. Bendungan sungai kecil jebol dan air meluapi belasan desa dengan ketinggian air 50-200 sentimeter.