Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 30 November 2017 | 16:22 WIB
  • Gunung Agung Kian Rapuh, Cuma Butuh Gempa 2 SR untuk Meletus

  • Oleh
    • Bayu Adi Wicaksono,
    • Bobby Andalan (Bali)
Gunung Agung Kian Rapuh, Cuma Butuh Gempa 2 SR untuk Meletus
Photo :
  • Bobby Andalan (Bali)
Letusan Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali.

VIVA – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memastikan Gunung Agung di Bali tidak perlu membutuhkan guncangan gempa bermagnitude tinggi untuk meletus. Itu karena kondisi gunung berapi tersebut sudah rapuh, demikian ungkap Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur dari PVMBG, Devy Kami Syahbana.

"Dengan magnitude 2 saja sudah bisa memicu letusan. Magnitudo 2 pada Skala Richter (SR) itu sudah bisa meletus. Kemarin begitu, gempa 2 SR sudah terjadi letusan," kata Devy di Pos Pengamatan Gunung Api Agung di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Kamis 30 November 2017.

Devy menuturkan, Gunung Agung kini sangat rentan untuk meletus lagi karena kondisinya saat ini sudah rapuh. Terutama sejak terciptanya lubang magma di tengah kawah letusan di puncak gunung.

Kondisi kawah letusan yang tercipta akibat letusan tahun 1963 sudah sangat terbuka, tak ada lagi sumbatan. Saat ini sudah ada celah bagi magma di perut gunung untuk menciptakan letusan.

"Di Gunung Agung ini sekarang gempa vulkanik beberapa kali saja sudah bisa memicu letusan. Tidak perlu ratusan bahkan ribuan yang terekam seperti September-Oktober. Magnitude-nya ya, bukan amplitudo-nya. Gempa besar yang bisa kita rasakan pada September-Oktober itu tahap pembukaan celah. Saat itu, kita memprediksi ketika mengalami akselerasi dengan peningkatan eksponensial bisa terjadi letusan. Tapi ternyata tidak terjadi. Itulah kompleksitas gunung api. Tapi ketika energinya cenderung turun, jumlah gempanya cukup banyak," katanya.

Intrusi Magma

Bagi Devy, gempa itu merefleksikan dari volume intrusi magma. "Saat itu kita hitung ada 39 juta meter kubik. Walaupun dulu energinya berkurang, deformasi cenderung melambat, tapi jangan lupa di perut Gunung Agung sudah terdapat magma yang suatu saat bisa ke luar," ujarnya.

Mungkin saja beberapa pihak saat itu menduga letusan Gunung Agung akan terjadi beberapa tahun berikutnya, alias tidak jadi meletus.

"Tapi ternyata terjadi sekarang. Tanggal 21 November kemarin itu pukul 17.05 WITA terbuka juga (sumbat lava). Ada yang lolos ke permukaan, warnanya abu-abu. Itu artinya sudah ada penerobosan sumbat lava tahun 1963," kata dia. (ren)