Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 1 Desember 2017 | 13:09 WIB
  • Korban Bencana Banjir Pacitan Bertambah, Kini 20 Tewas

  • Oleh
    • Eko Priliawito
Korban Bencana Banjir Pacitan Bertambah, Kini 20 Tewas
Photo :
  • ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko
Kondisi sejumlah rumah di Kabupaten Pacitan saat dilanda banjir bandang dan tanah longsor pada 29 November 2017.

VIVA – Pengaruh siklon tropis Cempaka yang menimbulkan curah hujan ekstrem dengan intensitas 383 milimeter per hari menyebabkan banjir dan longsor yang besar di Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur.

Posisi siklon tropis Cempaka hanya berjarak 23 kilometer dengan daratan Pacitan atau berada di Samudera Hindia sebelah selatan Pacitan. Bencana yang terjadi menyebabkan wilayah Pacitan lumpuh total.

Banjir dan longsor terjadi bersamaan dengan gelombang laut tinggi sehingga semua sungai yang bermuara di Teluk Pacitan meluap dan menyebabkan banjir besar di Pacitan.

Hingga siang ini, pencarian dan penyelamatan korban serta penanganan dampak banjir dan longsor masih dilakukan di 7 kecamatan di Pacitan.

Aktivitas masyakarat di Kecamatan Kebonagung, Kecamatan Pacitan, Kecamatan Tulakan, Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Nawangan, Kecamatan Arjosari, dan Kecamatan Ngadirojo, masih lumpuh total. Daerah yang paling parah adalah Kecamatan Pacitan.

Jumlah korban bertambah akibat bencana di Pancitan. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga pukul 06.00 WIB, Jumat 1 November 2017, jumlah korban meninggal sebanyak 20 orang.

Terdiri dari 14 korban longsor dan enam korban banjir. Sebanyak 11 korban sudah ditemukan dan sembilan korban masih dalam pencarian. Tercatat empat orang luka-luka.

Sementara jumlah warga yang mengungsi mencapai 1.879. Sebanyak 497 berada di Gedung Karya Darma, 51 orang di Masjid Sirnoboyo, 51 orang di gedung Muhammadiyah MDMC, 32 orang di Balai Desa Sumberharjo, 16 orang di Balai Desa Bangunsar, 32 orang di Balai Desa Cangkring, 150 orang di MI Al Huda dan 1.050 orang di Balai Desa Sidomulyo.

Kerusakan fisik meliputi 1.709 unit rumah, terdiri dari 1.225 rumah di Kecamatan Kebonagung, sembilan rumah di Kecamatan Ngadirojo, 160 rumah di Kecamatan Pacitan, 148 rumah di Kecamatan Nawangan, dan 167 rumah di Kecamatan Arjosari. Selain itu juga terdapat 17 unit fasilitas pendidikan yang rusak.

Pendataan masih terus dilakukan karena belum semua lokasi dapat dijangkau. Petugas gabungan masih terus melakukan evakuasi.

Terkait bencana ini, bupati Pacitan telah menetapkan masa tanggap darurat selama 7 hari, sejak 28 November hingga 4 Desember 2017. Status ini dapat diperpanjang atau diperpendek menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Komandan Kodim 0801/Pacitan telah ditunjuk sebagai komandan tanggap darurat.

Ribuan Personel Dikerahkan

Sebanyak 1.174 personel gabungan dikerahkan untuk melakukan penanganan darurat. Tim gabungan dari BPBD Pacitan bersama TNI, Polri, Basarnas, PMI, SKPD, BPBD Magetan, Baznas Tanggap Darurat, ACT, Perhutani, SAR FKM Solo, LMI, dan relawan melakukan penanganan darurat.

Tim Reaksi Cepat BNPB telah hadir di Pacitan untuk memberikan pendampingan dalam penanganan darurat. Bantuan berupa selimut, sarung, paket sandang, peralatan kesehatan, seragam sekolah, lampu emergency, jerigen lipat, dan perahu karet 7 unit telah didistribusikan.

Dinas Sosial Jawa Timur memberikan bantuan lauk pauk dan matras. Sedangkan Dinas Kesehatan Jawa Timur memberikan bantuan perahu karet, makanan penambah air susu ibu, makanan untuk anak-anak, polybag, kaporit dan paket obat-obatan, dan lainnya.  Dinas PU Jawa Timur memberikan bantuan 2 alat berat.

Dapur umum terpusat di Kelurahan Pacitan diperkuat juga oleh peran serta masyarakat yang tidak terdampak dengan menyediakan permakanan untuk pengungsi. Logistik mencukupi hingga 7 hari ke depan. Sekolah diliburkan untuk sementara waktu.

Saat ini sebagian besar banjir telah surut menyisakan lumpur dan material yang terbawa banjir. Akses menuju Pacitan dari Wonogiri sudah dapat dilalui. Alat berat belum dapat menjangkau lokasi longsor. Listrik sudah menyala kecuali di daerah yang masih terdapat genangan dan longsor. Pembersihan lingkungan secara swadaya telah dilakukan oleh masyarakat.

Kebutuhan mendesak yang diperlukan saat ini adalah makanan siap saji, air bersih, pakaian layak pakai, seragam anak sekolah, peralatan kebersihan rumah tangga, alat sanitasi, selimut, layanan kesehatan, MCK, dan kebutuhan dasar lainnya di pengungsian. (ren)