Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 3 Desember 2017 | 10:20 WIB
  • Keseruan Peragaan Busana Berbasis Bambu di Payakumbuh

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Andri Mardiansyah (Padang)
Keseruan Peragaan Busana Berbasis Bambu di Payakumbuh
Photo :
  • VIVA/Andri Mardiansyah
Festival bambu dalam Payakumbuh Festival Botuang di Kabupaten Payakumbuh, Sumatera Barat.

VIVA – Payakumbuh Festival Botuang menyedot perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Kegiatan itu diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Payakumbuh bekerja sama dengan Anak Nagari (pemuda) di kawasan objek wisata Panorama Ampangan.

Festival itu tidak hanya dihadiri pemusik lokal dan nasional tapi juga grup musik kelas dunia. Di antaranya, Riau Rhythm Chambers Indonesia (RRCI), Talago Buni, Minanga Pentagong, Sambasunda, Ranah PAC, Taufik Adam, La Paloma, dan Ali Syukri serta seniman lainnya. Festival juga menyuguhkan hiburan rakyat dengan desain artistik bambu yang megah dan futuristik.

Keseruan Peragaan Busana Berbasis Bambu di Payakumbuh

Festival itu diklaim sebagai kegiatan nasional yang berbasis masyarakat karena melibatkan warga, terutama Komunitas Anak Nagari, yang bekerjasama dengan tim kreatif Payakumbuh Festival Botuang 2017.

"Selain memberikan wadah bagi para seniman, melalui kegiatan ini, kita juga menargetkan akan banyak tumbuhnya industri dan ekonomi kreatif masyarakat yang memproduksi kerajinan dengan bahan dasar Botuang atau bambu ini," kata Andra, Direktur Payakumbuh Botuang Festival.

Selain sebagai kerajinan tangan dan alat-alat rumah tangga, kini bambu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi bangunan dan desain interior maupun eksterior sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.

Selain memperlihatkan hasil kerajinan dari olahan bambu, dalam kegiatan itu juga menampilkan Kesenian Sikatuntuang, yakni alat penumbuk padi yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian dan diikuti belasan Bundo Kanduang.

"Intinya disuguhkan pertunjukan kesenian yang akan menghibur pengunjung di Puncak Panorama Ampangan, pertunjukan musik, seni, dan sastra juga akan ditampilkan, begitu pun dengan silek bagoluk lunau dari Bengkel Seni Minanga Center," kata Andra.

Pengunjung merasakan sensasi berbeda saat berada di puncak Panorama Ampangan sambil menyaksikan penampilan musik yang alatnya terbuat dari bambu dan mendengarkan pembacaan puisi dari penyair kawakan.

Nagari Aua Kuniang dikenal sebagai Kampung Perajin Bambu karena masyarakatnya kebanyakan berprofesi sebagai perajin bambu. Namun itu belum membuat masyarakat setempat berpenghasilan lebih karena kerajinan yang selama ini terbatas di anyaman bambu, pagar, kandang ayam, dan bentuk kerajinan lainnya.

Melalui festival itu, Pemerintah mencoba menyosialisasikan manfaat bambu sehingga dapat memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat setempat. Diharapkan juga membuat masyarakat sadar dan terus berinovasi dengan bambu sehingga industri dan ekonomi kreatif meningkat. (mus)