Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 4 Desember 2017 | 10:34 WIB
  • Sepekan, Pabrik Pil PCC di Semarang Produksi 56 Juta Butir

  • Oleh
    • Harry Siswoyo,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Sepekan, Pabrik Pil PCC di Semarang Produksi 56 Juta Butir
Photo :
  • ANTARA FOTO/Aji Setyawan
Barang bukti pil jenis Paracetamol Caffein Carisoprodol (PCC) yang diamankan BNN di Jalan Raya Halmahera, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (3/12/2017).

VIVA – Rumah produksi pil Paracetamol Caffein Carisoprodol atau PCC di Semarang ternyata mampu membuat sembilan juta pil tiap harinya.

Pil yang beberapa waktu lalu sempat membuat geger karena efeknya yang menyerupai narkoba jenis Flakka itu dikerjakan oleh 11 pekerja dan telah beroperasi selama tiga bulan.

"Ini luar biasa. Totalnya sekitar 9 juta butir diproduksi di rumah ini," ujar Kepala Badan Narkotika Nasional, Budi Waseso di rumah produksi PCC di Jalan Halmahera Semarang, Senin, 4 Desember 2017.

Sebelumnya, dalam penggerebekan Minggu, 3 Desember 2017, BNN berhasil mengumpulkan barang bukti sebanyak 1,39 juta butir pil PCC siap edar.

Pil yang sejatinya untuk obat sakit jantung dan penenang itu, dikemas dengan berbagai jenis paket berbeda.

"Asumsi keuntungan dalam sebulan bersih mencapai Rp2,7 miliar. Karyawannya dibayar Rp5 sampai Rp7 juta. Ini manusia-manusia yang biadab," kata Budi Waseso.

Seorang pasien terbaring di ruang isolasi Rumah Sakit Jiwa Kendari usai mengkonsumsi obat bernama PCC di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (14/9/2017).

Kini, selain mengamankan pil PCC yang siap edar, BNN bersama Polda Jawa Tengah juga mengamankan mesin pencetak pil, alat press, serta sejumlah bahan baku pil PCC dalam puluhan karung serta 17 drum paracetamol.

Untuk tersangka, dua orang pemilik pabrik yakni Djoni dan Ronggo telah diamankan termasuk 11 pekerja lainnya.

PCC merupakan obat yang mengandung Karisoprodol atau obat keras. Obat ini telah ditarik dari peredaran sejak tahun 2013. Dahulu pengguna PCC ditujukan untuk meringankan pengidap sakit jantung, karena memberi efek relaksasi.

Namun kemudian, empat tahun setelah ditarik, ternyata pil PCC muncul kembali di beberapa daerah. Salah satunya adalah Kendari. Hampir 200 pelajar dilaporkan menggunakan ini.

Dari jumlah itu, hampir setengahnya dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa lantaran berperilaku aneh dan tidak menentu. Berawal dari kasus itu kemudian terungkap mereka menggunakan Pil PCC dan memiliki efek seperti pengguna narkoba Flakka di luar negeri. (mus)