Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 4 Desember 2017 | 12:09 WIB
  • Hadi Tjahjanto, Sang Komodor Jokowi untuk Panglima

  • Oleh
    • Harry Siswoyo
Hadi Tjahjanto, Sang Komodor Jokowi untuk Panglima
Photo :
  • VIVA.co.id/Twitter @_TNIAU
KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto yang kini menjadi calon tunggal Panglima TNI pengganti Jenderal Gatot Nurmantyo yang memasuki usia pensiun.

VIVA – Presiden Joko Widodo resmi mengajukan Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai pengganti Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang akan memasuki pensiun pada Maret 2018.

Penunjukan Kepala Staf Angkatan Udara ini menyiratkan keinginan Jokowi untuk 'menggilir' matra di TNI yang sebelumnya sempat tak berjalan ketika Gatot Nurmantyo menggantikan Jenderal Moeldoko pada tahun 2015.

Ya, dua tahun sebelumnya terdapat dua jenderal TNI dari Angkatan Darat yang didapuk sebagai panglima. Meski memang tak ada ketentuan tertulis soal rotasi matra TNI sebagai prasyarat sebagai panglima.

Namun sejak dahulu, diyakini rotasi matra itu akan memberi efek baik untuk sinkronisasi antar matra TNI, yakni AD, AU dan AL. Atas itu, sebelum Moeldoko didapuk panglima, ada nama Laksamana TNI Agus Suhartono dari Angkatan Laut (2010) dan Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto dari Angkatan Udara (2006).

Namun demikian, karena penunjukan Panglima TNI adalah prerogatif Presiden, maka rotasi matra ini sempat 'mandek' ketika muncul nama Gatot Nurmantyo menggantikan Moeldoko.

pelantikan panglima tni dan kepala bin

Angkatan Darat kembali mengisi kursi panglima, menggeser peluang Angkatan Udara yang seharusnya berdasarkan rotasi matra lebih berpeluang.

"Semua ini sangat bergantung kepada hak prerogatif presiden," kata Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin, Kamis, 23 November 2017.

Terlepas itu, yang jelas kini Marsekal TNI Hadi Tjahjanto kini telah diusung Jokowi untuk menggantikan Gatot Nurmantyo. Setidaknya dengan penunjukan ini, kembali mendudukkan rotasi matra yang sebelumnya telah berlangsung.

Karir yang ‘Meroket’

KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto
Hadi Tjahjanto dan Jokowi sesungguhnya bukan kenalan baru. Pria kelahiran Malang tahun 1963 yang lulus akademi Angkatan Udara pada tahun 1986 ini pernah menjadi Komandan Pangkalan Udara Adi Sumarmo Jawa Tengah (2010-2011).

Kala itu, Jokowi belum menjadi presiden namun masih sebagai Wali Kota Surakarta. Sementara Hadi masih berpangkat Kolonel. Diduga sejak itulah kedekatan mereka terjalin.

Dalam karir, dewi keberuntungan sepertinya memang selalu lekat dengan Hadi Tjahjanto. Bagaimana tidak, selepas dari Komandan Lanud Adi Sumarmo, setahun kemudian ia didapuk menjadi Direktur Operasi dan Latihan basarnas (2011-2013).

Otomatis dengan posisi itu, Hadi resmi mendapat bintang satu. Nasib baik pun tak berhenti di situ,  dua tahun berselang, ia kembali ditunjuk sebagai Kepala Dinas Penerangan AU (2013-2015). Dan selanjutnya melambung lagi pada 2015 menjadi Komandan Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh.

Hingga kemudian Jokowi masuk dalam Istana. Keberuntungan makin menjadi-jadi untuk Marsekal Hadi. Bagaimana tidak, sepeninggalnya dari Lanud Abdulrachman Saleh Jawa Timur.

Jokowi menariknya sebagai Sekretaris Militer Presiden. Berkat itu, pangkat Hadi Tjahjanto pun berubah menjadi Marsekal Madya.

Namun lagi-lagi, bak 'super kilat', setelah di lingkaran Istana, Hadi Tjahjanto kembali dipromosikan menjadi Inspektur Jenderal Kementerian Pertahanan (2016-2017).

Sampai akhirnya kini Hadi Tjahjanto didapuk sebagai Kepala Staf Angkatan Udara dan terakhir berpangkat Marsekal Utama. Bisa dibayangkan bukan, bagaimana singkat dan cepatnya loncatan bapak dua anak ini.

Ya, 'Dewi Keberuntungan' memang selalu dekat dengan Hadi Tjahjanto. Sulit disangkal bagaimana moncernya karir mantan pilot pesawat angkut ini menyodok ke karir militer.

Dan kini, 'jimat' itu kembali dibuktikan oleh Hadi Tjahjanto. Jokowi berkeinginan ia duduk di tempat tertinggi di militer. Jadi, jika memang tak ada aral melintang, Maret nanti atau empat bulan ke depan Hadi Tjahjanto resmi memegang tongkat panglima.

"Berilah kesempatan kepada udara," kata Politikus PDI Perjuangan TB Hasanuddin.