Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 4 Desember 2017 | 13:18 WIB
  • Polisi Telusuri Kabar Kematian Pentolan ISIS Bahrun Naim

  • Oleh
    • Eko Priliawito,
    • Irwandi Arsyad
Polisi Telusuri Kabar Kematian Pentolan ISIS Bahrun Naim
Photo :
  • ANTARA FOTO/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha
Bahrun Naim, pemimpin kelompok ISIS wilayah Asia.

VIVA – Muhammad Bahrun Naim alias Anggih Tamtomo alias Abu Rayan, salah satu pentolan ISIS Asia Tenggara yang mendirikan Katibah Nusantara, dikabarkan tewas dalam pertempuran di Suriah.

Kematian mantan narapidana kepemilikan senjata api dan bahan peledak yang lulusan program D-3 Jurusan Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret itu, beredar luas melalui media sosial.

Informasi terkait kematian Bahrun Naim memang belum terkonfirmasi. Pihak keluarga juga belum mendapat kabar mengenai hal ini. Dengan informasi yang beredar, Kepolisian Republik Indonesia langsung mengecek dan menelusuri.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Hubungan Masyarakat Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan, saat ini sedang diselidiki kebenaran kabar tewasnya pentolan kelompok ISIS asal Indonesia ini. "Sedang didalami informasi ini," kata Martinus, Jakarta, Senin 4 Desember 2017.

Mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya ini menambahkan, koordinasi segera dilakukan dengan Kementerian Luar Negeri, Interpol dan atase Kepolisian di Turki. Menurutnya, polisi telah mengetahui kabar yang beredar di media sosial itu. "Koordinasi dengan Kemlu dan semua akses yang ada di Polri," ujarnya.

Seperti diketahui, Bahrum Baim sering dikaitkan dengan Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Abu Wardah Santoso. Dia diduga sebagai penghuhung utama MIT dengan kelompok teroris ISIS di Timur Tengah.

Bahrun Naim disebut-sebut sebagai dalang aksi teror bom di  Thamri, Jakarta Pusat pada 2016. Bahrum juga sering disebut sebagai pimpinan Jamaah Ansoru Daulah (JAD), kelompok teroris di Indonesia dan perekrut teroris di Indonesia.

Bahrun Naim pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS pada 2014.  Hingga kabar kematiannya beredar, dia dipastikan masih di Suriah dan tinggal di Raqqa. Saat ia pergi ke Suriah, ia dilaporkan membawa satu anak dan dua orang istrinya. Saat itu, istri mudanya pergi dalam kondisi hamil.