Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 4 Desember 2017 | 16:36 WIB
  • Masa Kritis Gunung Agung Belum Bisa Disimpulkan Selesai

  • Oleh
    • Eko Priliawito,
    • Bobby Andalan (Bali)
Masa Kritis Gunung Agung Belum Bisa Disimpulkan Selesai
Photo :
  • ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana
Seorang petani menggarap lahan pertanian setelah sempat terkena abu Gunung Agung di Desa Sidemen, Karangasem, Bali.

VIVA – Aktivitas Gunung Agung di Bali relatif stabil pada dua hari terakhir ini. Tak tampak kepulan asap kelabu seperti yang terpantau saat erupsi beberapa waktu lalu. Saat ini, yang terpantau hanya asap putih bertekanan tipis setinggi 500-1.000 meter dari puncak kawah gunung setinggi 3.142 mdpl itu.

Meski secara visual relatif terjadi penurunan, namun pergolakan di dalam perut gunung yang terletak di Kabupaten Karangasem itu masih terjadi. Diketahui 2/3 kawah gunung telah terisi lava. Itu sebabnya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) belum berani mengambil keputusan terkait Gunung Agung.

"Kita perlu lihat ke depan apa yang akan terjadi. Kita belum bisa mengambil keputusan apakah proses erupsi ini sudah berhenti atau masih berlangsung," kata Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana, di Pos Pengamatan Gunung Api Agung di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Senin 4 Desember 2017.

Menurut Devy, tak terpantaunya kepulan asap kelabu di puncak kawah Gunung Agung bisa terjadi karena kemungkinan yakni habisnya energi magma atau sebaliknya, energinya masih ada namun terjadi penyumbatan.

Meski begitu, yang menjadi pegangan masih tingginya aktivitas Gunung Agung yakni seismik yang masih merekam gempa-gempa yang menandakan masih adanya aliran fluida magma ke permukaan. Apalagi, jika mundur ke belakang hingga tanggal 1 Desember, energi di bawah perut Gunung Agung relatif besar.

"Cenderung naik dalam tiga hari terakhir," kata Devy.

Untuk dapat menyimpulkan apakah masa kritis Gunung Agung mulai mereda atau sebaliknya masih dibutuhkan waktu pengamatan berbagai teknologi.

"Kalau energi magma sudah habis harusnya ada penurunan progresif seluruh parameter pemantauan seperti visual, seismik, deformasi, geokimia dan penginderaan jauh satelit. Kalau sudah menunjukkan bahwa magma tidak punya mobilitas bergerak ke atas, bisa kita turunkan (statusnya). Tapi kalau ada potensi naik lagi, tetap awas," katanya.

Devy menambahkan, belum bisa disimpulkan karena kondisi stabil di Gunung Agung masih sangat pendek, atau masih sekitar dua hari terjadi. Dibutuhkan contoh yang panjang agar dapat diputuskan apakah tren Gunung Agung sudah turun atau belum.

"Kalau sekarang kita mau jadikan suatu kesimpulan, tren-nya pendek sekali. Jadi, kita belum bisa menyimpulkan. Kita harus punya sampel yang lebih panjang, yang lebih jelas. Kita tunggu dulu sampai jelas trennya mengarah ke satu skenario tertentu," kata Devy. (one)