Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 4 Desember 2017 | 23:23 WIB
  • Pabrik PCC di Solo Digerebek, Ada 50 Juta Butir Pil

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Fajar Sodiq (Solo)
Pabrik PCC di Solo Digerebek, Ada 50 Juta Butir Pil
Photo :
  • VIVA/Fajar Sodiq
Kepala BNN, Komjen Budi Waseso (baju biru)

VIVA – Badan Narkotika Nasional atau BNN berhasil menggerebek pabrik pembuatan pil PCC di Solo. Pil tersebut pernah membuat sejumlah anak-anak di Kendari berperilaku seperti zombie.

Kepala BNN, Komjen Budi Waseso mengatakan, penggerebekan pabrik pembuatan pil PCC yang beralamat di Jalan Setia Budi, Solo itu dilakukan pada Minggu, 3 Desember 2017. 

"Penggerebekan dilakukan hari kemarin sekitar pukul 07.00 WIB," kata dia kepada wartawan di pabrik  pil PCC di Solo, Senin, 4 Desember 2017.

Dari hasil penggerebekan dua pabrik pil PCC di Solo dan Semarang, BNN berhasil menangkap 11 pelaku. Dua di antaranya diketahui sebagai bandar dan penyandang dana, yakni Joni dan Ronggo.

"Joni itu yang punya senjata api. Sedangkan Ronggo kemarin hampir melarikan diri ke Singapura," kata pria yang akrab disapa Buwas.

Mantan Kabareskrim itu menuturkan, dari hasil paspor milik Ronggo diketahui jika yang bersangkutan berkali-kali masuk ke China dan India. Ronggo diduga pergi berkunjung ke dua negara itu untuk berbelanja bahan baku.

"Bahan baku pil PCC dari China dan India. Jadi Anggoro lah yang selama ini belanja di dua negara itu. Ini bukti tertera di sini," ungkapnya.

Menurut dia, pabril pil PCC di Solo setiap harinya bisa memproduksi sebanyak 50 ribu butir. Bahkan, saat digerebek kemarin ditemukan sebanyak 50 juta pil PCC. Sedangkan di Semarang terdapat 3 juta butir pil PCC.

"Dari hasil memproduksi pil PCC itu, setiap bulannya menghasilkan uang sebanyak Rp2,7 miliar," ujar Buwas.

Dia mengungkapkan. penggerebekan pabrik pil PCC itu berawal dari kasus yang terjadi di Kendari. Saat itu terdapat puluhan anak-anak usia SD dan SMP yang menyalahgunakan pil tersebut.

"Kita masih ingat dengan kasus kasus Kendari yang korbannya 62 anak-anak dan satu anak meninggal. Efeknya seperti zombie jika pil itu dicampur dengan minuman keras," ucapnya.

Dari kasus tersebut selanjutnya BNN dan kepolisian menyelidiki untuk mengungkap peredaran pil PCC tersebut. Dia menyebutkan dibutuhkan waktu selama lima bulan untuk membongkar kasus ini. Pil tersebut memang peredarannya banyak di Kalimantan dan Sulawesi.

"Kita mendalami asal usul pil PCC itu. Akhirnya kita menemukan pabriknya di Semarang dan Solo. Sebenarnya sudah ditemukan cukup lama, namun baru kemarin kita yakin tempat ini untuk pembuatan pil ini," ujarnya.

Dalam penggerebekan pabrik pembuatan pil PCC itu ditemukan sejumlah alat-alat produksi di dalam rumah kontrakan itu.

"Di pabrik ini ada mesin pengaduk, mesin cetak obat, bahan baku. Mesinnya itu sudah canggih dan bukan buatan dalam negeri," kata dia.