Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 5 Desember 2017 | 12:34 WIB
  • Agung Meletus dan 'Celaka' Pariwisata Indonesia

  • Oleh
    • Harry Siswoyo
Agung Meletus dan 'Celaka' Pariwisata Indonesia
Photo :
  • Reuters/Darren Whiteside
Panorama Gunung Agung dengan kehadiran bulan purnama penuh baru-baru ini.

VIVA – Aktivitas erupsi Gunung Agung di Pulau Bali menyingkap 'sisi kelam' lain dari lemahnya sektor pariwisata di Tanah Air. Bagaimana tidak, ketika tanah Dewata sedang bergemuruh dengan letusan, limpahan wisatawan yang sedianya hendak dan terkumpul di Bali akhirnya cuma bertahan menunggu reda.

Menteri Pariwisata Arief Yahya bahkan menyebut ada potensi devisa senilai Rp9 triliun dari sektor wisata Bali yang hilang akibat erupsi Gunung Agung.

Angka itu didapatnya dari estimasi 15 ribu wisatawan yang biasanya datang ke Bali dan dengan asumsi pengeluaran Rp250 miliar per hari. 

"Sekitar 36 hari (masa tanggap darurat), dikalikan Rp250 miliar akan ada Rp9 triliun kita akan kehilangan devisa," kata Arief, Senin, 4 Desember 2017.

Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar Bali.

FOTO: Aktivitas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai saat erupsi Gunung Agung

'Kepanikan' Arief soal erupsi Gunung Agung Bali juga tercermin dari ketakutannya soal tak tercapainya target 15 juta wisatawan mancanegara yang telah dipatok pemerintah.

Kata Arief, sebagai pulau yang menyumbang 40 persen wisatawan, namun karena adanya fenomena alam letusan Gunung Agung, akhirnya membuat target tadi menjadi pesimistis dicapai.

"Sampai September kita sangat percaya diri. Namun, akibat erupsi, dampak totalnya kita perkirakan, kita akan kekurangan satu juta (wisatawan). Kalau 14 juta, akan tercapai sekitar 93 persen," katanya.

Atas itu, Arief pun mengaku akan 'mengatrol' potensi wisata lain di luar Pulau Bali. Namun demikian, sayangnya dari ribuan titik potensi wisata Indonesia. 

Hanya ada Kepulauan Riau di Sumatera yang baru dianggap siap, untuk menjadi alternatif pilihan selain Bali. "Kita sadar targetnya sangat besar. Yang bisa melengkapi itu Kepri (Kepulauan Riau)" ujarnya.

Menunggu 'Bali Baru'

Keindahan Wisata Pulau Dodola Kabupaten Morotai, Maluku Utara

FOTO: Pulau Dodola Kabupaten Morotai Maluku

Sektor pariwisata Indonesia diakui memang sebuah ceruk yang menjanjikan untuk dikelola. Laporan 2015, sektor ini memberikan kontribusi ke Pendapatan Domestik Bruto 4,23 persen atau senilai Rp461,36 triliun, dengan peningkatan devisa US$19 miliar.

Sektor ini juga lah yang menyerap sedikitnya 12,16 juta pekerja. Namun demikian, sayangnya setelah lebih dari setengah abad Indonesia, cuma Bali yang terkenang.

Baru di tahun 2016, Presiden Joko Widodo mencanangkan ada tujuan wisata selain Bali. Lewat program 'Bali Baru', terdapat 10 objek wisata baru yang akan dikebut menjadi lokasi alternatif wisatawan.

Objek wisata itu yakni, Candi Borobudur, Mandalika-Labuan Bajo, Gunung Bromo-Tengger, Gunung Semeru, Kepulauan Seribu, Danau Toba, Wakatobi, Tanjung Lesung, Morotai dan Tanjung Kelayang.

Keindahan Wisata Alam Kaledupa di Wakatobi Sulawesi Tenggara

FOTO: Wisata alam Kaledupa Wakatobi Sulawesi Tenggara

"Sepuluh Bali Baru ini harus cepat diselesaikan. Semuanya harus siap terintegrasi dalam sebuah program pengembangan," kata Jokowi medio November lalu.

Ya, mimpi 'Bali Baru' ini juga seiring dengan dat adanya 125 juta hingga 180 juta wisatawan asal Tiongkok yang akan melancong, dan tentu saja angka itu belum mencantumkan dari negara lain.

Ditambah lagi, hasil proyeksi memperkirakan setengah dari wisatawan itu akan 'menyerbu' masuk ke Asia. "Kalau kita memiliki destinasi 10 Bali Baru yang kita garap dengan cepat dan baik. Target 20 juta (wisatawan) bukan sesuatu yang amat sulit untuk kita capai," kata Jokowi.

Apa pun itu, apresiasi lokasi 'Bali Baru' untuk sektor pariwisata Indonesia memang layak diberikan. Terlambat mungkin, namun jika memang pariwisata telah dipatok jadi penghasil devisa di masa mendatang dengan bayangan duit senilai Rp260 triliun.

Maka sebaiknya jangan tanggung-tanggung. Erupsi Gunung Agung sadar atau tidak memang telah membuka 'sisi kelam' lain dari pariwisata Indonesia.

Wisatawan asing menari bersama penari Banyuwangi dalam gelaran Gandrung Sewu 2017.

Faktanya, para wisatawan tetap memilih Bali dengan segala keindahan, keramahan, kemurahan, dan kelengkapan infrastrukturnya sebagai labuhan. Tak ada Danau Toba, tak ada Tanjung Kelayang, tak ada Kepulauan Seribu dan lokasi lain yang jadi pilihan.

Bali tetap segala-galanya dan anugerah alam yang lahir dari siklus alamiah Gunung Agung seeprtinya belum memberi manfaat bagi daerah yang juga menyimpan potensi wisata. Seperti dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla, sesungguhnya Indonesia memang sudah ‘nasibnya’ memiliki alam yang indah. Tinggal bagaimana memanfaatkannya saja.

"Pariwisata di Indonesia itu adalah menjual rezeki Allah, yakni alam yang indah dan baik,” kata JK saat membuka Sail Sabang 2017 di Aceh.