Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 6 Desember 2017 | 00:02 WIB
  • Jelang Pilkada 2018, Mensos Singgung Kearifan Lokal

  • Oleh
    • Beno Junianto
Jelang Pilkada 2018, Mensos Singgung Kearifan Lokal
Photo :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa saat hibur anak-anak pengungsi beberapa waktu lalu.

VIVA – Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mendorong penguatan peran kearifan lokal agar mampu menjadi peredam kemungkinan disharmoni sosial, ekonomi, politik dan budaya.

"Tahun depan akan dilaksanakan pilkada di 171 titik baik kabupaten, kota maupun propinsi. Potensi disharmoni bahkan potensi konflik yang mungkin mengganggu kohesifitas sosial bisa terjadi. Maka tokoh lintas agama, lintas budaya dan lintas profesi diharapkan terus memupuk persaudaraan meskipun beda afiliasi politik, beda strata sosial ekonomi dan beda kulturnya," kata Mensos melalui keterangan tertulis kepada VIVA, Selasa 5 Desember 2017.

Mensos yang bergabung di acara Konferensi Nasional Kearifan Lokal Tahun 2017 di Jakarta juga dihadiri perwakilan tokoh agama, pendidikan, budaya, adat dan lintas profesi. Tema kegiatan ini adalah Memperkuat Kearifan Lokal dalam Menjaga Persatuan dan Kesatuan  Menuju Indonesia  Damai dan Sejahtera.

"Berbagai isu kebangsaan saat ini antara lain radikalisme, konflik sosial, ekslusifitas, intoleransi dan terorisme dapat diminimalisir melalui penguatan peran tokoh agama dan budaya dalam mengusung kearifan lokal," katanya. 

Dikatakan Khofifah, kearifan lokal yang dimaksud adalah ciri khas yang tumbuh, hidup dan adaptif, berskala lokal, punya kekuatan mengikat, sebagai tuntunan perilaku bagi warganya dalam berelasi dengan lainnya berdasarkan kesetaraan, kesederajatan, dan non diskriminatif.

"Kepemimpinan lokal dan pemimpin informal ,  mekanisme lokal, sumber daya lokal,  dan inisiatif lokal merupakan komponen-komponen utama dan  merupakan inti dari kearifan lokal yang hingga kini bertahan di tengah pengaruh globalisasi," katanya.

Khofifah lantas mencontohkan nilai-nilai kearifan lokal seperti Musyawarah Mufakat. Di Lampung hal ini disebut "Rembug Pekon", sementara di Bangka Belitung disebut "Sepintu Sedulang", atau Rakat Mupakat di Kaltim, dan Rembugan di Jawa Tengah.

Kemudian Gotong Royong, di beberapa daerah dikenal dengan istilah "Pokadulu" (Sulawesi Tenggara), sementara di masyarakat Bugis dikenal dengan ungkapan "mali si parappe, malilu dipakainge, rabha si patokkong" yang berarti hanyut dibawa ke pinggir/saling menolong, hilap dinasehati, jatuh dibangkitkan).

Mensos mengatakan konferensi ini penting dalam situasi bangsa Indonesia menghadapi pilkada serentak tahun 2018, solusi atas radikalisme, konflik sosial, eksklusifitas kelompok dan golongan,  terorisme dan yang baru-baru ini terjadi adalah penyanderaan warga Indonesia oleh oleh kelompok bersenjata di Timika.

"Alhamdulillah berkat perjuangan TNI, Polri, dan rakyat Papua yang setia mencintai NKRI, maka semuanya dapat diselesaikan tanpa korban jiwa," papar Khofifah. (ren)