Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 6 Desember 2017 | 18:54 WIB
  • Muncul Danau Dadakan Usai Banjir Gunung Kidul, Ini Sebabnya

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Daru Waskita (Yogyakarta)
Muncul Danau Dadakan Usai Banjir Gunung Kidul, Ini Sebabnya
Photo :
  • VIVA.co.id/Twitter
Fenomena munculnya air bawah tanah di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta saat bencana banjir.

VIVA – Dua hari usai bencana banjir dan tanah longsor melanda Yogyakarta, muncul danau dadakan di Dusun Wediwutah, Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu, Gunungkidul.

Sempat tumbuh, danau dadakan yang memunculkan mata air seluas sekitar tiga hektare tersebut kini sudah mulai surut. Fenomena ini membuat masyarakat bertanya-tanya bagaimana hal tersebut bisa terjadi. 

Guru Besar Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Sari Bahagiarti, menjelaskan, fenomena yang terjadi itu sebenarnya bukanlah hal aneh apalagi di daerah kapur (karst). 

Ahli hidrogeologi itu menuturkan, di daerah Gunung Kidul yang merupakan topografi karst terdapat banyak rongga, gua, dan sungai bawah tanah. Menurut rekaman data saat ini, terdapat lebih dari 250 gua kering dan berair di Gunung Kidul.

Sari mengatakan, saat curah hujan sangat tinggi dan ekstrem, rongga-rongga di bawah tanah akan penuh terisi air. Ketika air di permukaan surut, air yang berada di bawah permukaan atau rongga itu masih ada.

Jika sifat sungai di bawah tanah itu artesis atau semi-artesis, maka ketika banjir surut, air yang berada di dalam rongga akan keluar atau dimuntahkan kembali ke permukaan. Hal itu terjadi karena adanya tekanan hidrostatistik.

“Meskipun pada tahun lalu di Gunung Kidul juga terjadi banjir, namun saat ini karena faktor hujan yang ekstrem sehingga air permukaan masuk dan memenuhi rongga-rongga menyebabkan batuan karst di daerah tersebut menjadi sangat jenuh air,” ujar Sari yang juga Rektor UPN Veteran Yogyakarta ini, Rabu 6 Desember 2017.

Menurutnya, faktor banjir yang ekstrem mengakibatkan suplai air permukaan ke bawah permukaan terlalu besar, kemungkinan melebihi kapasitas atau melebihi daya tampung rongga-rongga. Kondisi itu dengan cepat dimuntahkan kembali keluar, pada saat banjir telah surut. 

Proses tersebut menyebabkan terjadinya sebuah fenomena seolah-olah terbentuk mata air baru atau danau baru. Sari menegaskan, di bawah tanah terjadinya fenomena tersebut dapat dipastikan adanya rongga.

"Jika faktor-faktor alam dan geologis mendukung, maka dimungkinkan fenomena tersebut akan muncul kembali," ucapnya.

Sari mengimbau, agar masyarakat tidak terlalu khawatir. Fenomena ini justru menjadi pelajaran masyarakat tentang daerah karst.

Pegunungan Sewu merupakan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK). Rangkaiannya meliputi wilayah Kabupaten Gunung Kidul DIY,  Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah, dan Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Tahun 2015 UNESCO menetapkan KBAK Pegunungan Sewu sebagai Global Geopark Network karena keragaman ekosistem yang ada di dalamnya dan bernilai internasional. 

“Masyarakat perlu lebih memahami fenomena karst dan peduli serta menjaga lingkungannya,” jelasnya. (one)