Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 6 Desember 2017 | 22:01 WIB
  • Fase Erupsi Gunung Agung Belum Berakhir, Ini Buktinya

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Bobby Andalan (Bali)
Fase Erupsi Gunung Agung Belum Berakhir, Ini Buktinya
Photo :
  • VIVA.co.id/ Bobby Andalan.
Glow atau sinar api di puncak kawah Gunung Agung.

VIVA – Gunung Agung hingga kini belum ‘menyelesaikan’ seluruh fase erupsinya, sejak munculnya erupsi freatik pada 21 November 2017 pukul 17.05 WITA. Dengan demikian, meski secara visual gunung setinggi 3.142 meter dari permukaan laut itu terlihat tenang, namun masih harus terus diwaspadai. 

Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil Syahbana memaparkan, dari lima alat pemantauan Gunung Agung, semuanya belum menunjukkan tanda-tanda aktivitas gunung di Kabupaten Karangasem itu mereda.

“Kemarin sudah erupsi. Pertanyaannya, apakah itu sudah akhir dari fase erupsi? Kalau dikatakan ini sudah akhir, harusnya sudah kembali normal. Kita tinggal bandingkan saja data sekarang ,dengan data saat Gunung Agung statusnya normal lima bulan lalu. Ada asap tidak? Sekarang ada. Normal tidak? Tidak. Berarti secara visual dia tidak normal,” kata Devy, di Pos Pengamatan Gunung Api Agung di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu 6 Desember 2017.

Setelah visual, alat ukur berikutnya adalah seismik. Devy mengatakan, mungkin saja beberapa bulan terakhir warga sudah terbiasa mendengar Gunung Agung dihantam ratusan bahkan ribuan gempa sejak September. 

Saat ini, memang jumlah gempanya paling tinggi hanya mencapai puluhan saja. Namun, jika ditarik mundur ke belakang dibandingkan dengan kondisi saat normal, Devy menyebutkan, dalam satu bulan belum tentu Gunung Agung diguncang gempa.

“Satu bulan sama sekali bisa tidak terekam adanya gempa. Artinya apa, dia masih di atas normal,” tutur Devy.

Alat ukur ketiga adalah deformasi atau penggembungan. Sebelum terjadinya krisis Gunung Agung pada September, deformasinya Gunung Agung tergolong datar. 

Setelah krisis pada September, Gunung Agung mengalami kenaikan permukaan sebesar enam sentimeter. 

“Itu belum balik lagi dan mungkin tidak balik lagi. Artinya, dia sekarang sudah berada di posisi yang berbeda. Jadi, secara deformasi dia belum normal,” jelas Devy.

Dari aspek geokimia, Devy mengatakan, usai erupsi 21 November 2017, selalu terukur adanya gas selfur diaoksida (SO2) yang merupakan gas komponen magma di dalam perut Gunung Agung. Meski dengan jumlah volume yang berbeda-beda, namun sejak saat itu hingga hari ini selalu terukur adanya gas SO2. 

“Kita mundur ke belakang, jangan jauh-jauh. Beberapa jam sebelum erupsi tanggal 21 November itu sampai drone terbang bolak-balik, SO2 tidak terekam. Artinya, sistemnya masih tertutup kan. Sekarang sistem sudah terbuka dan gas SO2 sudah ada jalur ke luar. Normalkah dia? Jelas tidak normal,” katapria asal Bandung, Jawa Barat tersebut.

Dari satelit menunjukkan hal sama. Apa yang terekam oleh satelit NASA Modis yakni adanya citra panas di puncak kawah Gunung Agung usai erupsi 21 November 2017. 

“Dari dulu, dari pertama kali satelit ini ada sampai kemarin erupsi, belum pernah merekam adanya citra termal di dalam kawah. Dari pertama kali satelit itu diterbangkan. Sekarang ada. Itu tidak normal. Jadi, dari seluruh parameter lima alat pemantauan kami ini, Gunung Agung belum kembali ke normal. Artinya ada di level tidak normal,” ujar Devy.