Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 7 Desember 2017 | 07:40 WIB
  • Kisah Asmara Hadi Tjahjanto Bak Drama Korea

  • Oleh
    • Syahrul Ansyari,
    • Lucky Aditya (Malang)
Kisah Asmara Hadi Tjahjanto Bak Drama Korea
Photo :
  • ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Calon Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menjalani uji kelayakan di DPR RI

VIVA - Rumah sederhana di Jalan Rogonoto Timur, 70, Kelurahan Tamanharjo, Singosari, Malang, merupakan tempat calon Panglima TNI Kepala Staf TNI AU Marsekal Hadi Tjahjanto dibesarkan. Di tempat ini, ayahnya yang purnawirawan TNI, Bambang Sudarto, dan keluarga tinggal.

Bambang Sudarto bercerita terkait perjuangan putranya yang memang bercita-cita sejak kecil sebagai TNI. Satu hal yang paling dramatis selain karir mentereng calon Panglima TNI adalah kisah asmara. Kisah asmara Hadi, mirip dengan drama korea.

"Sempat putus, setelah lulus SMA mau daftar tTruna. Saat saya beres-beres rumah kok saya baca ada surat putus," kata Bambang.

Kisah asmara yang diceritakan sang ayah adalah kisah Hadi dengan Nanik Istumawati, sang istri yang setia menemani perjuangan Hadi hingga mencapai puncak karir sebagai calon tunggal Panglima TNI. Posisi paling tinggi di institusi TNI.

"Pacaran itu sejak SMA. Nah saya kan kasihan, kalau Nanik itu tidak jadi dengan anak saya. Padahal anak saya sudah masuk Taruna di tahun, 1982," kata Bambang.

Mendapati surat putus dari Nanik untuk Hadi, kedua orangtua Hadi berinisiatif mengajak Nanik ke Akademi Militer di Magelang. Di sana Hadi kembali bertemu dengan Nanik. Setelah lulus Taruna di tahun 1986, kedua insan resmi dipersatukan dalam ikatan suci.

"Saat kunjungan keluarga saya bawa Bu Hadi datang, Hadi kaget. Terus bilang tanya ke Nanik. Ini benar kamu? Akhirnya sampai sekarang jadi berkeluarga, yang menyambungkan lagi itu saya dengan ibu," kata Bambang.

Hadi dan Nanik berpacaran selama enam tahun. Saat itu, Bambang tidak ingin ketika anaknya sudah mulai menjadi anggota TNI justru urung menikah dengan Nanik.

"Pacaran sekitar 6 tahun sudah mau jadi kok putus. Anak saya masuk Taruna, bukan mikir anak saya tapi saya mikir anak orang dan sekarang jadi mantu saya," kata Bambang.

Bambang berhara, Hadi mampu melalui serangkaian uji kelayakan dan kepatutan agar bisa menjadi Panglima TNI. Satu hal yang ia titipkan kepada Hadi. Putranya harus mampu memegang teguh kepercayaan dan amanat baru yang diberikan oleh kepala negara.

Hadi Tjahjanto merupakan pilot pesawat TNI AU dan banyak bertugas di pangkalan udara militer, yang kemudian menjadi Kepala Staf Angkatan Udara Republik Indonesia.

Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 8 November 1963, ini menyelesaikan pendidikan militernya di Akademi Angkatan Udara pada 1986. Kemudian, berkarier sebagai pilot di Skuadron 4 yang bermarkas di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur.  

Di tahun 1993, ia naik menjadi Kepala Seksi Latihan Skuadron 4, dan berlanjut menjadi Pimpinan Pendidikan Penerbang sebagai Komandan Flight Skuadron 101 di Pangkalan Udara Adi Sumarmo pada 1997.

Di awal 2000, ia dipercaya menjadi Kepala Seksi Keamanan dan Pertahanan Pangkalan Dinas Operasi LANUD Adi Sucipto. Ia juga digadang menjadi Komandan Satuan Udara Pertahanan Komando Operasi Angkatan Udara I.

Selama 2000-an, ia banyak sekali mendulang prestasi, hingga pada 2016 lalu, Marsekal Hadi dilantik menjadi Irjen Kementerian Pertahanan dan kembali mengukir prestasi dengan menjadi calon tunggal pengganti Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Pergantian ini dinilai banyak pihak sudah memenuhi prosedur dan sejalan dengan UU TNI yang menjelaskan bahwa rotasi pergantian kepemimpinan dari panglima akan digulirkan secara bergilir dari Angkatan Udara, Angkatan Laut, serta Angkatan Darat.