Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 7 Desember 2017 | 13:10 WIB
  • Meski Letusan Gunung Agung Berskala V, Tak Perlu Keluar Bali

  • Oleh
    • Bayu Adi Wicaksono,
    • Bobby Andalan (Bali)
Meski Letusan Gunung Agung Berskala V, Tak Perlu Keluar Bali
Photo :
  • ANTARA Foto/Fikri Yusuf
Letusan Gunung Agung

VIVA – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memastikan sejak erupsi pada 21 November 2017 dan hingga saat ini Gunung Agung masih berada dalam fase kritis.

Bahkan, berdasarkan catatan PVMBG, skala letusan gunung berketinggian 3.142 mdp ini masuk dalam jajaran tujuh gunung api dunia yang Volcanic Explosivity Index (VEI) berskala V.

"Apakah saat ini akan seperti erupsi tahun 1963, kami tidak tahu pasti. Kami hanya tahu sejarahnya gunung ini saja. Dia itu satu dari tujuh gunung di dunia yang letusannya selalu VEI V. Harus kami catat supaya tahu," kata Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana di Pos Pengamatan Gunung Api Agung di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Kamis, 7 November 2017.

Dalam sejarahnya, Gunung Agung pernah meletus sebanyak empat kali yakni pada 1808, 1821,1843, dan 1963. Empat kali letusan itu berada pada VEI V. Jeda waktu meletus yang cukup pendek dari tahun 1963 ke tahun 2017, dibanding jeda letusan 1843 ke tahun 1963, tak berarti gunung ini akan meletus dengan skala yang lebih rendah.

"Mungkin orang akan berpikir untuk menghasilkan energi dengan indeks letusan skala VEI V butuh istirahat yang panjang, misalnya 100 tahun. Tapi, mari kita lihat pengalaman letusan gunung api di dunia, apakah ada erupsi yang jeda waktunya pendek, tapi dia erupsinya bisa besar? Ada ternyata," ujar Devy.

Tak usah jauh-jauh ke luar negeri, di Indonesia saja hal itu pernah terjadi. Sebut saja Gunung Merapi. Pada 2006, gunung yang terletak di Jawa Tengah itu pernah meletus. Empat tahun berselang tepatnya pada 2010, gunung ini kembali meletus dengan skala letusan yang lebih besar dari letusan tahun sebelumnya.

"Tahun 2010 erupsinya besar sekali. Dia jeda erupsinya pendek, tapi yang terakhir justru lebih besar. Jadi, tidak harus masa istirahat itu sama. Kalau begitu, kita akan mengalami letusan seperti tahun 1963? Belum tentu, karena kita tidak tahu," katanya.

"Bisa seperti itu? Bisa. Kita harus takut? Tidak. Selama kita mengikuti rekomendasi, itu sudah dibuat pemikiran ke arah sana. Kita pikirkan dengan baik rekomendasi itu. Kalau tidak pikir, kita tebak-tebakan namanya. Kan tidak mungkin tebak-tebakan soal nyawa," kata Devy.

Saat ini, aktivitas terdampak dari bencana erupsi Gunung Agung hanya pada radius delapan kilometer dan perluasan sektoral 10 kilometer. 

Devy meminta semua masyarakat yang terdampak untuk bersabar, termasuk institusinya. "Kalau kita tidak sabar, turunkan saja terus statusnya. Tapi kan tidak bertanggung jawab. Kita harus bertanggung jawab secara scientific. Itu pegangan kita," ujarnya.

"Apakah kita harus pindah ke luar Bali? Tidak perlu. Apakah boleh berwisata di Bali? Boleh, asal jangan masuk ke zona bahaya. Jangan takut, tetap tenang, tapi tetap harus waspada. Kita harus paham gunung ini belum kembali ke normalnya dan masih ada potensi untuk erupsi. Kita sudah siap dengan segala skenarionya," kata Devy. 

Berdasarkan catatan, selain Gunung Agung, ada enam gunung lain di dunia yang kekuatan letusannya mencapai skala V, di antaranya Gunung Vesuvius, Gunung Fuji, Gunung Tarawera, Gunung St. Helens, Gunung Hudson, dan Gunung Puyehue.

Baca: Hati-hati, Gunung Agung di Fase Kritis