Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 8 Desember 2017 | 00:13 WIB
  • Lava Mulai Mengalir Lagi Mengisi Kawah Gunung Agung

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama,
    • Bobby Andalan (Bali)
Lava Mulai Mengalir Lagi Mengisi Kawah Gunung Agung
Photo :
  • REUTERS/Darren Whiteside
Letusan Gunung Agung.

VIVA – Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil Syahbana menjelaskan proses efusi atau pertumbuhan lava ke permukaan kawah Gunung Agung mulai terjadi kembali. 

Sebelumnya, pertumbuhan lava sempat melambat dalam beberapa hari terakhir. Namun hari ini, terpantau aliran lava kembali memenuhi kawah dengan diameter 900 meter dan kedalaman 200 meter.

Ia mengakui berdasarkan hasil perekaman citra satelit didapati energi thermal di puncak kawah menandakan terjadinya perlambatan pertumbuhan lava. Namun, lava mulai kembali bergerak memenuhi kawah gunung setinggi 3.142 mdpl tersebut.

"Dari satelit kita lihat adanya penambahan lava, tapi tidak linear lagi. Tidak lurus begitu naik ke atas, dia hanya menggembung di tengah," terang Devy di Pos Pengamatan Gunung Api Agung di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Kamis 7 Desember 2017.

Penggembungan di tengah kawah terjadi karena ketebalan lava yang lebih dulu dikeluarkan sudah mulai mengeras dengan tingkat ketebalan yang cukup tinggi. Sehingga, bagian atas lava cenderung lebih dingin daripada bagian dalamnya.

"Jadi, kalau misalnya ada pertumbuhan lava, penambahan lava baru, dia mengisi ke bagian tengah (kawah)," tuturnya.

Apabila terjadi pelepasan energi, Devy amat bersyukur lantaran tekanan gas yang mendorong dari dalam perut Gunung Agung semakin berkurang.

Namun, jika sebelumnya pengukuran gas SO2 (oksida sulfur) yang merupakan gas magmatik cukup tinggi terukur, saat ini jumlahnya turun drastis.

"Normalnya saat erupsi itu kita mengalami penurunan gradual untuk kadar SO2. Tapi saat ini kondisinya, pada tanggal 25-29 November lalu, SO2 terukur cukup tinggi, kemudian drop turun ke angka yang cukup jauh sampai ke satu per dua puluh kalinya. Karena itu perlu mengantisipasi," papar Devy.