Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 8 Desember 2017 | 12:04 WIB
  • Sebenarnya Apa Dampak Putusan AS soal Yerusalem

  • Oleh
    • Harry Siswoyo
Sebenarnya Apa Dampak Putusan AS soal Yerusalem
Photo :
  • REUTERS/Muhammad Hamed
Aksi Protest Donald Trump dan Israel Soal Yerusalem

VIVA – Donald Trump resmi mengakui bila Yerusalem adalah ibu kota Israel. Presiden Amerika Serikat yang terpilih pada Pilpres 2016 lalu itu bak memantik sumbu 'perang'.

Trump dianggap telah mencederai sebuah kesepakatan internasional mengenai Yerusalem yang telah disusun sejak 70 tahun lalu oleh Perserikatan Bangsa Bangsa.

Bahkan mungkin apa yang kini diperbuat Trump bak menembus sejarah ratusan tahun lalu soal nasib Yerusalem yang selalu diperebutkan, dihancurkan dan dibangun kembali oleh penguasanya.

Lalu, sesungguhnya apa dampak pengakuan Amerika Serikat ini soal status Yerusalem?

Menabuh genderang perang

Aksi protes warga membakar bendera Israel, Kamis (7/12/2017)

Aksi massa membakar bendera milik Israel sejak pengakuan AS atas Yerusalem milik Israel, Kamis (7/12/2017)/REUTERS/Zoubeir Souissi
 

Selama bertahun-tahun, AS selalu mematuhi kesepakatan negosiasi perdamaian antara Israel dan Palestina soal posisi Yerusalem. Setiap enam bulan sekali, AS pun memperpanjang komitmen mereka dengan cara menempatkan kedutaan mereka di Tel Aviv bukan di Yerusalem.

Ya, lewat itu setidaknya proses perdamaian yang sedang digagas banyak negara untuk Israel dan Palestina, bertahan. Namun demikian, dengan pernyataan Trump terbaru, maka peluang pintu perdamaian menjadi bak tertutup. AS bak memilih posisi di belakang Israel, ketimbang netral diantara kedua negara bertikai. Genderang perang pun bak ditabuh.

"Trump menghancurkan segala upaya two state solution," kata Ketua Negosiasi Palestina-Israel, Saeb Erakat.

Merampas Palestina

Warga mengibarkan bendera Palestina
Sejak Israel menyatakan sebagai negara pada tahun 1948. AS dan Israel memang sudah intim sejak lampau. AS jugalah yang pertama kali mengakui Israel sebagai negara.

Sekaligus juga sebagai negara yang juga memprakarsai hubungan damai antara negara Arab dan Israel. Sejak itulah, Israel mendapatkan bantuan militer AS setidaknya 50 juta dolar per tahun.

Dan kini, hubungan AS dan Israel yang telah berjalan puluhan tahun makin menguat. Lewat Donald Trump, AS bak menjadi negara yang melindungi Israel atas posisi mereka di Yerusalem.

Berkat itu juga, maka perjuangan Palestina dan Yordania soal nasib kemerdekaan mereka jadi terhambat. Darah yang telah terserak sejak puluhan tahun bak menjadi sia-sia.

"Itu sama saja dukungan terhadap penjajahan dan penindasan rakyat Palestina," kata Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini.

Memecah Yahudi

Kaum Ultra-Orthodox Yahudi memandang Kubah Shakrah di Kota Tua Yerusalem

FOTO: Kaum Ultra-Orthodox Yahudi memandang Kubah Shakrah di Kota Tua Yerusalem/REUTERS/Oleg Popov

Bagi Israel, keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota seperti hadiah tak terkira. Pernyataan itu membuat Israel kini berada di atas angin.

Setelah bertahun-tahun tak pernah diakui sebagai negara yang menduduki Yerusalem sebagai bagian negaranya.

Namun demikian, ternyata tak semua warga Yahudi Israel mengapresiasi 'kemenangan' mereka atas Yerusalem. Trump telah membuat komunitas Yahudi menjadi terbelah.

"Ini akan membahayakan dan merusak komitmen AS pula membahayakan posisi Israel yang akan berhadapan dengan koalisi negara-negara Arab," ujar juru bicara kelompok komunitas Yahudi Amerika liberal atau J Street.

Jurang Permusuhan

Para militan Hamas Palestina bersiaga usai keputusan AS soal YerusalemFOTO: Para militan Hamas Palestina bersiaga usai keputusan AS soal Yerusalem, Kamis (7/12/2017)/REUTERS/Mohammed Salem


Sadar atau tidak, kini dengan pengakuan AS atas Yerusalem telah membuat jurang permusuhan semakin dalam. Kota suci yang sejak lampau dijaga oleh tiga agama Sanawi yakni Yahudi, Kristen dan Islam, kini memanas.

Api dalam sekam yang dulu hampir padam kini seperti meruyak lagi. Gejolak dimana-mana. Isu agama bukan tidak mungkin menjadi dalih konflik.

"Kita terpanggil dan harus segera melakukan intifada (kebangkitan Palestina) di hadapan musuh zionis," kata pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh.