Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 30 September 2015 | 18:03 WIB
  • Peneliti UI: Sejarah Kelam Tragedi 1965 Harus Diungkap

  • Oleh
    • Suryanta Bakti Susila,
    • Adrianus Mandey
Peneliti UI: Sejarah Kelam Tragedi 1965 Harus Diungkap
Photo :
  • ANTARA/Rosa Panggabean
Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta. Setiap 1 Oktober diperingati untuk mengenang peristiwa pemberontakan PKI pada 30 September 1965. Selasa (30/9)

VIVA.co.id - Peneliti Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Saras Dewi mengatakan, negara perlu mengambil peran terhadap korban pembantaian Tragedi 1965. Nasib korban Tragedi 1965 hingga kini masih terkatung-katung.

"Ratusan ribu nyawa melayang karena dibantai secara sadis dan keji. Sejarah kelam masa lalu itu hingga kini masih masih menjadi isu yang tabu untuk diperbincangkan. Bahkan pengungkapan fakta atas kejadian itu seolah menjadi hal yang 'haram' untuk dibuka," ujar Saras, Rabu 30 September 2015.

Menurutnya, korban atas pembantaian itu menanti kepastian nasib agar negara mau mengusut kasus ini secara tuntas. Sehingga akan terbuka tabir tentang apa yang terjadi sebenarnya di masa itu.

"Kita ingin negara mengusut kasus genosida ini. Karena selama ini kita mungkin tidak tahu apa sih yang sebenarnya terjadi 50 tahun lalu," kata dia.

Saras mengungkapkan, saat itu banyak remaja wanita yang ditangkap dan ditahan tanpa ada proses peradilan karena dianggap berafiliasi kepada Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Padahal, mereka tidak tahu apa itu PKI. Tapi mereka ditangkap dan dipenjara tanpa proses hukum dan mereka diperlakukan tidak pantas," tutur Saras.

Selanjutnya ...