Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 15 Juni 2017 | 21:54 WIB
  • Lima Pekerjaan Bangsa yang Harus Selesai di Mata SBY

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Lucky Aditya (Malang)
Lima Pekerjaan Bangsa yang Harus Selesai di Mata SBY
Photo :
  • ANTARA FOTO/Risky Andrianto
Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

VIVA.co.id – Presiden RI ke enam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengakui telah melakukan kajian terhadap persoalan bangsa Indonesia. Ia mengidentifikasi lima persoalan yang hidup di tengah masyarakat dan harus segera diselesaikan.

"Ada lima persoalan hidup di tengah masyarakat. Pertama harus lebih religius, agama bukan hanya simbol, harus meningkatkan kerukunan antara umat agama, toleransi dan tenggang rasa antar agama, mengelola akses dampak buruk dari pemilihan politik," kata SBY di Malang, Kamis, 15 Juni 2017. 

SBY mengatakan jika lima persoalan yang ada dalam masyarakat saat ini sudah diatur oleh dasar negara yaitu Pancasila. Tegang rasa dan toleransi antar umat beragama harus terus dijaga, dan tidak mudah terpengaruh situasi politik di daerah.

"Kita lihat, bagaimana dampak Pilkada DKI Jakarta membuat jarak antar etnik dan komunitas beragama muncul. Ini tidak boleh berkembang dan meluas di Indonesia," ucap SBY.

Ketua Umum Partai Demokrat ini berpesan jika Pilkada 2018 yang akan datang jangan sampai menjadi perang antar partai politik. "Jangan sampai jadi perang partai politik atau menjadi peperangan antar agama, antar etnis antar kelompok," imbuh SBY.

SBY justru mempertanyakan kenapa Pilkada DKI Jakarta jadi ajang peperangan partai politik seperti saat ini. Ia meminta Pilkada yang akan datang harus tetap damai dan demokratis. SBY mengajak pemerintah dan seluruh masyarakat melakukan instropeksi.

"Semua harus mengintropeksi, mulai calon pemimpin, pemerintah, TNI dan Polri, begitu juga pers dan semuanya. Ini akan menjadi bencana jika Pilkada DKI Jakarta di copy di daerah lain," ujar SBY.

"Selain itu, saya lihat banyak pemimpin di dunia yang tidak sadar menuju ke arah yang salah dan tidak menuju ke keadilan," sambungnya.