Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 5 Oktober 2017 | 10:32 WIB
  • Demokrat: Lucu Saja Elektabilitas SBY di Bawah Prabowo

  • Oleh
    • Hardani Triyoga,
    • Reza Fajri
Demokrat: Lucu Saja Elektabilitas SBY di Bawah Prabowo
Photo :
  • ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.

VIVA.co.id – Lembaga survei Median belum lama ini merilis elektabilitas  sejumlah tokoh yang layak bersaing dalam bursa bakal calon presiden. Hasil survei salah satunya menempatkan Susilo Bambang Yudhoyono di bawah Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Umum DPP Demokrat Roy Suryo menilai lucu.

"Pertama, lucu saja. Karena kan Pak SBY sudah jelas dan terbukti selama 10 tahun mengemban amanah dan memimpin Republik ini," kata Roy di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu 4 Oktober 2017.

Kemudian, dia juga mempertanyakan kenapa nama SBY dimasukan lagi ke survei itu. Karena SBY sendiri sudah dua periode menjadi Presiden RI, sehingga tidak bisa maju lagi.

Selain itu, menurut Roy, Ketua Umum Demokrat itu juga tak berniat kembali maju ke Pilpres 2019.

"Yang jelas, lucu itu begini. Beliau tidak akan maju lagi. Sama sekali tak niat maju lagi kok masih ditempatkan di survei," ujar Roy.

Terkait nama yang akan dimajukan Demokrat dalam Pilpres 2019, Roy belum bisa menyebutkan. "Kita belum pastikan. Nantilah. Tunggu saja," kata Roy.

Sebelumnya, survei Median merilis hasil terbaru bahwa tingkat elektabilitas Joko Widodo masih tertinggi dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain. Perbandingan elektabilitas ini juga terhadap lawan Jokowi di Pilpres 2014, Prabowo Subianto.

Direktur Eksekutif Median Rico Marbun menyatakan, tingkat keterpilihan Joko Widodo saat ini sebesar 36,2 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding tokoh lain yaitu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang mendapatkan 23,2 persen.

Selain itu, ada Ketua Umum Demokrat SBY juga masuk dalam radar bursa pencalonan. Hasil survei Median, nama SBY bercokol di urutan ketiga dengan memperoleh tingkat keterpilihan 8,4 persen. (hd)