Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 13 Oktober 2017 | 14:09 WIB
  • Fahri Hamzah: Berhenti Bicara Ahok

  • Oleh
    • Syahrul Ansyari,
    • Lilis Khalisotussurur
Fahri Hamzah: Berhenti Bicara Ahok
Photo :
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah.

VIVA.co.id - Lembaga survei Indikator memunculkan nama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai kandidat terkuat calon wakil presiden untuk Jokowi. Namun, Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah, meminta semua pihak untuk tidak menyinggung-nyinggung Ahok dahulu.

"Saya menyarankan kita nggak usah ngomong Ahok lagilah dulu. Berhenti saja karena yang sudah saja ini masih banyak masalah. Jadi Indonesia ke depan itu harus bisa bicara tentang konsep dan kepemimpinan yang meringankan beban bangsa," kata Fahri di Gedung DPR, Jakarta, Jumat, 13 Oktober 2017.

Menurutnya, bangsa ini harus maju tanpa beban dan dengan 'sayap yang ringan dan tidak basah. Ia pun menganalogikan ketika tanpa beban maka Garuda Indonesia terbang tinggi ke angkasa tanpa beban.

"Saya tahu ada teman-teman yang manuver ingin menarik-menarik kembali. Mungkin karena kecewa dengan keputusan pengadilan atau pilkada. Tetapi sudahlah, mari kita lihat ke depan," kata Fahri.

Ia justru membayangkan format kepemimpinan baru Indonesia yang akan datang bisa lebih membebaskan Indonesia dari sisa utang masa lalu. Sehingga Indonesia betul-betul melangkah tanpa kakinya ditarik dari belakang.

"Kita ingin sebetulnya pemimpin yang kakinya nggak ditarik dari belakang sehingga dia bisa membawa kita terbang lebih jauh ke depan. Sudahlah, nggak usah diomong-omongin lagilah. Orang juga lagi menjalani masa dia sebagai. Mohon maaf ini nggak etis, nggak enak disebut. Tapi disebutnya kan narapidana," kata Fahri.

Ia meyakini Indonesia banyak sekali jagoannya. Sebab, maksud dari reformasi 19 tahun yang lalu ada keyakinan Indonesia memiliki banyak sekali orang yang bisa bekerja baik di dalam dan luar negeri.

"Percaya dirilah kita bahwa sumber kepemimpinan itu banyak, terutama nanti yang akan membebaskan kita dari beban-beban masa lalu," kata Fahri.

Sebelumnya, Indikator Politik Indonesia merilis survei head to head pemilihan presiden antara Joko Widodo dengan Prabowo Subianto. Hasilnya, Jokowi mendapat dukungan terbanyak yaitu 54,6 persen sementara Prabowo 24,8 persen.

Sedangkan, di antara nama-nama yang dianggap paling pantas mendampingi Jokowi sebagai calon wakil presiden, muncul nama mantan Gubernur DKI Jakarta yang kini jadi terpidana kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama.

Ahok, sapaan Basuki, unggul dengan dukungan responden 17 persen. Kemudian disusul oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo 10 persen dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil 8 persen, sementara 34 persen tidak menjawab.