Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 27 November 2017 | 23:19 WIB
  • Kepercayaan Publik ke DPR Rendah, Fadli Zon Anggap Wajar

  • Oleh
    • Rendra Saputra,
    • Lilis Khalisotussurur
Kepercayaan Publik ke DPR Rendah, Fadli Zon Anggap Wajar
Photo :
  • VIVA.co.id/Reza Fajri
Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Fadli Zon

VIVA – Wakil Ketua DPR, Fadli Zon, mengatakan rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat pada parlemen terjadi hampir di banyak negara, bukan cuma Indonesia. Meski begitu ia memastikan hal tersebut akan menjadi bahan instropeksi bagi DPR RI.

Ini terkait dengan hasil survei nasional Poltracking Indonesia yang menempatkan DPR pada posisi paling rendah terkait tingkat kepuasan masyarakat. Hanya 34 persen publik yang merasa puas dengan kinerja DPR.

"Karena masyarakat mengharapkan peran yang lebih, dan daya kritik masyarakat lebih tinggi kepada lembaga legislatif ketimbang eksekutif. Biasanya begitu. Itu terjadi hampir di banyak negara," kata Fadli di Gedung DPR, Jakarta, Senin 27 November 2017.

Dicontohkan tingkat penerimaan masyarakat pada Kongres Amerika Serikat saja hanya 11 persen. Tetapi tingkat keterpilihan anggota kongresnya mencapai 96 persen.

"Jadi memang approval right itu tak terkait dengan elektabilitas. Ini juga salah satu contoh. Meskipun rendah, walau 11 persen saya kira masih di angka puluhan persen ya, mungkin 40-50 persen. Saya kira dibandingkan dengan DPR lain di negara lain itu termasuk tinggi," kata Fadli.

Saat ini angka kepercayaan masyarakat Indonesia pada DPR masih 34 persen. Ia mengklaim wajar, sebab jarang ada negara yang tingkat kepercayaan masyarakat pada parlemennya di atas 50 persen.

"Karena masyarakat kritis terhadap parlemen. Karena berharap apa yang dilakukan oleh para wakilnya itu ya ekspektasinya tinggilah," kata Fadli.

Ia menambahkan, kasus-kasus besar yang melibatkan anggota DPR sebenarnya terjadi pada periode lalu ketimbang periode saat ini. Tapi ia mengakui kasus-kasus anggota DPR pada periode lalu terbawa pada periode saat ini.

"Itu juga perlu dilihat sebagai sebuah progres bahwa tidak banyak satu kasus-kasus yang dianggap kasus besar itu terjadi pada masa periode ini," kata Fadli.