Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 28 November 2017 | 20:58 WIB
  • Sindiran Pedas Jokowi ke Politisi yang Masih Bawa Isu Lama

  • Oleh
    • Rendra Saputra,
    • Agus Rahmat
Sindiran Pedas Jokowi ke Politisi yang Masih Bawa Isu Lama
Photo :
  • Agus Rahmat
Presiden Jokowi tinjau gladi resik tempat ijab kabul Kahiyang dan Bobby.

VIVA – Saat silaturahmi dengan peserta rapat koordinasi nasional Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Istana Negara, Presiden Joko Widodo menyinggung masalah politik dan pemilu.

Jokowi kembali mengingatkan, tahun 2018 mulai memasuki tahun politik. Namun perlu tetap dijaga, agar jangan sampai masalah politik seperti pilkada hingga pilpres, membuat masyarakat terpecah-belah.

"Gara-gara pilkada, pemilihan bupati, pemilihan wali kota, pemilihan gubernur atau pemilihan presiden kita menjadi retak menjadi pecah, lima tahun sekali kan itu," kata Presiden Jokowi, dalam sambutannya, Selasa, 28 November 2017.

Jokowi meminta, agar masyarakat dijaga walau ada perbedaan pilihan politik. Dalam demokrasi, pasti ada perbedaan pilihan. Namun tidak bisa juga perbedaan itu terus terbawa. "Coblos yang paling baik, sudah rukun kembali," kata Jokowi.

Mantan gubernur DKI itu kemudian menyinggung, ada politisi yang masih terus membawa-bawa isu yang sudah berlalu tiga hingga empat tahun lalu. "Masa sudah tiga tahun, empat tahun masih dibawa-bawa urusan pilpres, pemilihan gubernur, pemilihan bupati, wali kota. Itu yang pintar  politikusnya, kita yang enggak bisa memberi tahu rakyat," jelas Jokowi.

Seorang politisi dianggap memang harus memiliki kemampuan untuk mempengaruhi rakyatnya. Tetapi Jokowi juga heran, apabila masalah yang sudah lama, terus diproduksi untuk komoditas politik hingga saat ini.

"Politikus kan memang harus pintar mempengaruhi rakyat. Tapi kalau mempengaruhinya tiga tahun empat tahun masih dibawa-bawa, iya enggak. Saya kadang-kadang kalau lihat ini apa toh sebetulnya," katanya.

Padahal Indonesia, lanjut dia, merupakan negara besar dengan ratusan suku, bahasa daerah. Meski berbeda, tetapi tetap bersaudara sebagai sesama bangsa. Tapi karena masalah itu, justru membuat masyarakat terpecah.

"Sampai sebegitu lupa kalau kita ini saudara sebangsa setanah air," katanya.