Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 17 Juni 2017 | 03:40 WIB
  • Faraouk El-Baz, Muslim Otak Sukses Manusia Pertama di Bulan

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Faraouk El-Baz, Muslim Otak Sukses Manusia Pertama di Bulan
Photo :
  • www.faroukelbaz.com
Faraouk El-Baz

VIVA.co.id – Amerika Serikat memang berhasil mendaratkan manusia pertama di Bulan pada 21 April 1969. Melalui misi Apollo 11, Neil Armstrong menjadi astronaut pertama yang menjejakkan kakinya di Bulan dan diikuti Buzz Aldrin 20 menit kemudian. 

Dunia mengingat keduanya dan Badan Antariksa Amerika Serikat. Namun dibalik keberhasilan misi pendaratan manusia pertama di satelit Bumi itu, ilmuwan muslim berperan besar di belakangnya. 

Ilmuwan yang dimaksud yakni Faraouk El-Baz. Pakar Geologi Amerika Serikat dan Mesir itu berperan dalam mempersiapkan misi yang terkenal dalam sejarah eksplorasi antariksa. Ilmuwan kelahiran Mesir, 2 Januari 1938 itu bekerja untuk NASA membantu perencanaan eksplorasi ilmiah di Bulan.

El-Baz merupakan saudara dari Osama El-Baz, penasihat senior Presiden Mesir Hosni Mubarak kala itu. 

El-Baz berkontribusi menyeleksi dan menentukan titik pendaratan misi Apollo 11. Tak hanya itu saja El-Baz juga berperan dalam melatih para astronaut NASA yang memotret dan mengamati lingkungan Bulan. 

Dikutip dari Huffington Post, Jumat 16 Juni 2017, El-Baz menjadi bagian penting NASA dari 1967 sampai 1972. Sejatinya, El-Baz berpartisipasi dalam program Apollo 11 sebagai Supervisor of Lunar Science Planning di Bellcomm Inc.

Bellcomm Inc merupakan divisi perusahaan AT&T yang menganalisis sistem untuk NASA. Selama enam tahun itu, El-Baz menjadi Secretary of the Landing Site Selection Committee misi Apollo 11. Selain itu juga menjabat sebagai Principal Investigator of Visual Observations and Photography, and Chairman of the Astronaut Training Group, yang memoles kemampuan para awak misi tersebut. 

Dengan jabatannya tersebut, El-Baz berperan penting membantu NASA menentukan titik pendaratan ideal bagi misi Apollo 11. 

Begitu El-Baz diperbantukan dalam program Apollo 11, dia meneliti lingkungan pegunungan permukaan Bulan dengan merinci foto-foto yang sudah ada. Pendalaman ini merupakan langkah penting untuk menentukan titik pendaratan ideal dan mengukur medan Bulan, variasi iklim dan faktor lainnya.

Astronaut yang dilatih El-Baz mengaku sangat terkesan. Didikan ilmuwan asal Mesir itu mengena. Bahkan astronaut Apollo 11 menyebutkan sebagai 'raja'.

"Setelah latihan dari Raja, saya merasa seperti sudah pernah di sini sebelumnya," kata astronaut Alfred Worden. 

Mendalami ilmu pengetahuan, El-Baz sebagai muslim, menegaskan ilmu pengetahuan tak bertentangan dengan agama. Sebab dia merasa saat mendalami endapan mineral seperti timbal dan seng tak pernah terbentur dengan keyakinan agama. 

"Sepanjang yang semua saya jalani, saya tak pernah menemukan sains bertentangan dengan agama. Siapapun yang percaya dengan kekuatan penciptaan maka (seharusnya) tak ada masalah dengan sains. Keduanya tidak saling eksklusif," ujar El-Baz. 

Pada usai senjanya, El-Baz masih menekuni ilmu pengetahuan. Pada usia 71 tahun, dia mendapat amanah menjabat Research Professor and Director of the Center for Remote Sensing di Universitas Boston, Amerika Serikat.