Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 18 Juli 2017 | 05:48 WIB
  • Mentas di Piala AFC Futsal Klub, Vamos FC Siap Mental

  • Oleh
    • Riki Ilham Rafles
Mentas di Piala AFC Futsal Klub, Vamos FC Siap Mental
Photo :
  • VIVA.co.id/Riki Ilham Rafles
Pelatih Vamos FC Mataram, Reza Falah

VIVA.co.id – Vamos FC Mataram mentas di ajang Piala AFC Futsal Klub, Vietnam pada 19-30 Juli 2017 mendatang. Mereka tergabung dalam Grup B yang diisi tim dengan level mumpuni.

Di dalamnya tergabung wakil Irak, Naft Al-Wasat, Al Rayyan dari Qatar, dan Disi Inves asal Tajikistan. Grup B ini disebut juga sebagai grup neraka oleh para analis futsal.

Meski begitu, pelatih Vamos FC, Reza Falah tidak gentar. Dia menilai anak asuhnya akan mampu membuat kejutan pada kejuaraan nanti.

"Klub ini memiliki dua target, pertama untuk meningkatkan pengalaman tim dalam pertandingan internasional serta menambah level di tingkat Asia," kata Reza saat ditemui di My Futsal, Jakarta, Senin 17 Juli 2017.

"Karena ini adalah kali pertama bagi Vamos bertarung di tingkat Asia, dan akan menghadapi pekerjaan sulit. Tapi tetap bisa dilakukan bersama," imbuh pria asal Iran tersebut.

Vamos FC sendiri memiliki target bisa lolos dari fase grup. Bambang Bayu Saptaji dan kawan-kawan harus berjuang ekstra keras, sebab mereka hanya menjalani waktu persiapan selama tiga pekan di bawah arahan Reza.

"Saya berusaha sebaik mungkin, apa yang menurut saya paling efektif sudah saya lakukan. Salah satunya adalah tim dalam bertahan," ujar Reza.

Datang ke Indonesia, Reza terlebih dahulu melakukan riset. Dia mengaku senang bisa bertemu dengan orang-orang yang cinta akan futsal, seperti Presiden Vamos FC,  Aryanto Prametu.

"Terima kasih kepada Pak Ary sebagai Presiden klub, dan mencintai futsal sebagai olahraga favoritnya. Dia tidak ragu untuk berinvestasi di dalamnya. Saya berharap Indonesia akan menghargai usaha Pak Ary," tuturnya.

Tak lupa Reza mengucapkan terima kasih kepada para pemain yang selama tiga pekan ini digembleng keras. Dia terpaksa melakukan ini agar skuat asuhannya bisa memiliki kekuatan mental yang mumpuni.

"Kehidupan mereka sudah saya batasi, tapi mereka menerima hal tersebut dengan lapang dada untuk menjadi pemain profesional. Saya berharap mereka bisa ambil hikmah dari yang saya lakukan ini," kata dia.