Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 10 November 2017 | 11:41 WIB
  • Mengulas Identitas Permainan Sepakbola Indonesia

  • Oleh
    • Satria Permana,
    • Pratama Yudha
Mengulas Identitas Permainan Sepakbola Indonesia
Photo :
  • VIVA.co.id/Dhana Kencana
Timnas U-22 Indonesia vs Myanmar di SEA Games 2017

VIVA – Timnas Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terlihat kehilangan identitas permainannya. Itu ditinjau saat Timnas Indonesia mengalami pergantian pelatih sejak 2010 hingga 2016 lalu.

Banyak pelatih yang wara-wiri di Timnas Indonesia selama periode tersebut. Mulai dari Alfred Riedl, Nilmaizar, Rahmad Darmawan, dan Jacksen F Tiago.

Empat pelatih tersebut menerapkan formasi yang berbeda-beda. Skema 4-2-3-1 dan 4-4-2 menjadi kegemaran mereka saat itu.

Tapi, semua dibongkar oleh pelatih Timnas sekarang, Luis Milla Aspas. Milla menerapkan pakem berbeda bersama Timnas level senior maupun U-22. Di sini, Milla lebih gemar menggunakan skema 4-2-3-1 atau 4-3-3.

Menurut Direktur Teknik PSSI, Danurwindo, apa yang dilakukan Milla sebenarnya sudah mencerminkan identitas sepakbola Indonesia. Pakem 4-3-3, diungkapkan Danur, memang menjadi identitas sepakbola Indonesia saat ini.

Dan, Milla menjadi salah satu aktor yang menentukan pakem 4-3-3 sebagai identitas asli sepakbola Indonesia. Danur menyatakan sering berkomunikasi dan konsultasi dengan Milla terkait penetapan skema 4-3-3 sebagai identitas asli sepakbola Indonesia.

"Kami sudah riset lebih dari setahun. Milla juga ada andil karena kami selalu berkomunikasi dan konsultasi dengan kami. Dia bilang datang ke sini tak ingin menerapkan tiki-taka tapi ingin memainkan sepakbola ala Indonesia," tutur pria yang akrab disapa Om Danur ini.

Kenapa 4-3-3?

Pertanyaannya adalah mengapa harus 4-3-3? Jawabannya cukup mudah. Indonesia dikenal memiliki pemain sayap yang cepat dan lincah.

Para pemain Indonesia pun memiliki kecerdikan yang luar biasa. Danur menyatakan formasi ini juga yang paling sederhana.

Dengan pakem seperti ini, Danur juga menilai, Timnas Indonesia bisa bermain lebih atraktif. Selain itu, skema ini menjadi yang paling sederhana untuk dipelajari di level usia dini.

"Saya katakan karena ini untuk pembinaan usia muda. Formasi 4-3-3 karena kami anggap yang paling sederhana. Di situ cuma ada tiga baris, belakang, tengah, depan. Selain itu, kami punya cara bermain yang konstruktif, berorientasi pada penguasaan bola," ujar mantan pelatih Persija Jakarta itu

"Di formasi ini berporos pada format berlian. Ini adalah dasar untuk penguasaan bola. Dasar permainan untuk oper ke kiri dan kanan. Itu alasan mengapa kami pilih formasi," lanjut dia.

Danur pun berharap, dengan pakem yang sudah ditetapkan, para pemain di level usia dini bisa mempelajarinya dengan baik. Sehingga, di level senior, mereka sudah lebih terbiasa dengan sistem bermain seperti ini.

Bukan cuma sebatas lisan, penetapan skema 4-3-3 sebagai identitas sepakbola Indonesia sudah dituliskan Danur dalam sebuah buku setebal 165 halaman bertajuk "Filosofi Sepakbola Indonesia".

"Selama ini belum ada panduan yang sesuai. Kini kita memiliki panduan yang sesuai untuk menerapkan sistem gaya bermain menyerang, bertahan, dan transisi untuk diterapkan di level usia muda," kata Danur.