Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 24 November 2017 | 10:43 WIB
  • Kontroversi Duet Bima-El Loco di Timnas U-19, PSSI Sehat?

  • Oleh
    • Satria Permana
Kontroversi Duet Bima-El Loco di Timnas U-19, PSSI Sehat?
Photo :
  • VIVA.co.id/Dhana Kencana
Bima Sakti ditunjuk sebagai pelatih Timnas Indonesia U-19

VIVA – Keputusan PSSI menunjuk Bima Sakti Tukiman dan Cristian Gonzales untuk menangani Timnas Indonesia U-19 menuai beragam komentar. Sebagian setuju, banyak juga yang menolak.

Beragam komentar dilayangkan oleh warganet. Mereka mempertanyakan apa sebenarnya pertimbangan PSSI dalam menunjuk Bima dan El Loco. Rasional dan sehat kah PSSI dalam mengeluarkan keputusan ini?

Sosok Bima sebenarnya tak terlalu dipermasalahkan. Sebab, pengalaman dan kapasitasnya sebagai pelatih sudah cukup teruji saat menjadi asisten Luis Milla Aspas di level U-23 dan senior.

Namun, terkait El Loco, banyak yang heran. Mereka bingung mengapa El Loco bisa didaulat sebagai asisten Bima.

"Saya melihat, figur ya. El Loco punya figur kuat dan sepertinya Ketua Umum PSSI suka," kata pengamat sepakbola, Supriyono Prima, kepada VIVA, Jumat 24 November 2017.

Meski begitu, Supriyono pun mempertanyakan pertimbangan PSSI mengangkat El Loco sebagai asisten pelatih Timnas U-19. Secara teknis, El Loco mendapatkan jabatan itu secara instan. Lisensi kepelatihannya juga dipertanyakan.

"Sebagai jebolan Primavera, saya senang Bima ada di posisi itu. Dia kapten saya. Tapi, Bima perlu didampingi oleh asisten yang cerdas," ujar eks pemain Persib Bandung tersebut.

"Oke, El Loco merupakan figur kuat. Tapi, apakah dia bisa mengelola pemain? Ini jadi pertanyaan besar. Siapa pun asistennya, tak masalah. Hanya saja, perlu ada proses," lanjut dia.

Dilengserkannya Indra Sjafri dari kursi kepelatihan Timnas U-19 juga dipertanyakan oleh Supriyono. Sebab, menurut Supriyono, tak ada indikator pasti apa yang membuat Indra kehilangan jabatannya itu.

Terlebih, dijelaskan Supriyono, Pasukan Garuda Nusantara belum menunjukkan performa terbaiknya.

"Pelatih punya periodisasi dalam menyambut sebuah event. Indra belum memberikan semuanya. Jadi, apa barometer pemecatan Indra?" terang Supriyono. (one)