Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 31 Oktober 2017 | 12:14 WIB
  • Presiden LaLiga: PSG dan ManCity Terus Berbuat Curang

  • Oleh
    • Muhammad Indra Nugraha
Presiden LaLiga: PSG dan ManCity Terus Berbuat Curang
Photo :
  • REUTERS/Philippe Laurenson
Striker PSG, Neymar dikartu merah wasit

VIVA - Presiden LaLiga, Javier Tebas, kembali menyerang Paris Saint-Germain (PSG) dan Manchester City. Menurutnya, kedua tim kaya raya itu terus berbuat curang dan harus dikeluarkan dari Liga Champions bila melanggar aturan Financial Fair Play (FFF).

PSG memang mencuri perhatian pada bursa transfer musim panas lalu dengan belanja cukup besar. Hingga UEFA melakukan penyelidikan karena terindikasi melakukan pelanggaran FFF.

PSG menghabiskan dana sebesar 238 juta euro atau Rp 3,7 triliun untuk membeli pemain. Yang termahal adalah mendatangkan Neymar dari Barcelona dengan harga 222 juta euro.

Bahkan, LaLiga juga meminta UEFA melakukan hal yang serupa kepada ManCity. Sebab, tim asuhan Josep Guardiola itu juga sudah belanja pemain hingga 244,3 juta euro atau sekitar Rp3,86 triliun.

Namun, UEFA dengan tegas tidak akan melakukan investigasi kepada tim asal Premier League tersebut karena tidak berdasar. Kini, Tebas kembali memberikan komentar pedasnya pada dua klub tersebut.

"Kita melihat ManCity dan PSG, di lima tahun terakhir, menjadi klub yang paling banyak membeli pemain. Pendapatan riil mereka takkan bisa membuat klub membeli pemain seperti itu," kata Tebas, dilansir L'Equipe.

"Hal ini membuat klub mengarang pemasukan sponsor yang harganya tak sesuai dengan nilai pasar. Kita bisa bandingkan PSG dan City dengan Real Madrid, Barca, Manchester United, dan Bayern. Mereka jauh lebih superior," sambungnya.

Lebih lanjut, Tebas menilai kerja sama antara PSG dengan Qatar jauh lebih besar dan baginya tim asal Prancis itu terus berbuat curang secara ekonomi. Baginya itu sudah bisa membuat PSG dikeluarkan dari Liga Champions.

"Mereka harusnya tak boleh dibiarkan ikut bermain di kompetisi Eropa. Mengapa tidak? Ketika seorang pembalap sepeda menggunakan doping, dia akan langsung dicoret dari balapan," ujarnya.