Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 15 November 2017 | 15:27 WIB
  • Piala Dunia Tanpa Italia, Apa Kejutan Berikutnya?

  • Oleh
    • Suryanta Bakti Susila
Piala Dunia Tanpa Italia, Apa Kejutan Berikutnya?
Photo :
  • REUTERS / Max Rossi
Itali Tak Lolos Piala Dunia 2018

VIVA – Gianluigi Buffon tak kuasa menahan tangis setelah Italia takluk dari Swedia dalam perebutan satu tiket tersisa ke Piala Dunia 2018. 

Italia gagal membalas kekalahan 0-1 dari Swedia di Friends Arena saat menjadi tuan rumah di San Siro, Milan, Selasa dini hari, 14 November 2017 WIB. Gli Azuri hanya mampu bermain imbang.

Sebagai kapten tim, Buffon paling terpukul. Dia pun segera mengumumkan pensiun dari Timnas Italia.

"Ini mengecewakan," kata pemain berusia 39 tahun itu sebagaimana dilansir Football Italia.

Usai laga ini, Buffon memutuskan pensiun dari sepakbola internasional. Perpisahan yang pahit, karena Gli Azzurri gagal tampil di Rusia tahun depan.

"Sayang sekali, pertandingan resmi terakhir saya bertepatan dengan kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia," kata Buffon pada Rai Sport.

Juara Piala Dunia empat kali itu tak tampil di Rusia tahun depan. Harapan mengulang sukses 1934, 1938, 1982, dan 2006, kandas. Mereka justru mengulang mimpi buruk 1958, kali pertama Italia tak ambil bagian di panggung Piala Dunia.

Secara tradisi, Italia adalah salah satu tim yang begitu kuat. Bahkan, dari setiap tahun penyelenggaraan, mereka selalu memberi kejutan.

Tapi, Italia mengalami 'kesialan' saat melakoni fase kualifikasi. Mereka harus tergabung bersama Spanyol dalam satu grup.

Benar saja. Italia kesulitan bersaing dengan Spanyol. Alhasil, mereka finis di posisi kedua klasemen akhir Grup G kualifikasi Piala Dunia 2018.

Pertanyaannya adalah mengapa Italia kesulitan bersaing dengan tim macam Spanyol sepanjang kualifikasi Piala Dunia 2018. Padahal, di Piala Eropa 2016, Italia sempat membuat Spanyol kewalahan dan menang dengan skor 2-0.

Ada dua masalah besar yang harus diatasi Italia dalam waktu dekat. Pertama adalah regenerasi pemain dan selanjutnya pelatih.

Selama kualifikasi Piala Dunia 2018, Italia masih mengandalkan gerbong tua. Lebih dari empat pemain yang sudah berusia di atas 33 tahun masih masuk ke dalam skuat Italia.

Itali Tak Lolos Piala Dunia 2018

Gianluigi Buffon, Andrea Barzagli, Giorgio Chiellini, dan Daniele De Rossi, adalah deretan gerbong tua yang masih dipakai di skuat Italia, bahkan mereka masih jadi pemain utama.

Memang, perlu pemain yang berpengalaman di dalam sebuah skuat. Tapi, itu tak cukup saat para rival mulai mempercayakan pemain muda mengisi skuatnya.

Tenaga mereka jelas berkurang. Tentunya, para pemain tua ini akan kesulitan menghadapi eksplosivitas skuat yang usianya jauh lebih muda.

Masalah kedua adalah pelatih. Giampiero Ventura merupakan pelatih berstatus medioker yang tak memiliki rekor untuk meraih gelar.

Penunjukan Ventura pun diwarnai kontroversi. Banyak yang bingung, mengapa FIGC tak memilih Carlo Ancelotti atau Fabio Capello sebagai pelatih Italia. Keduanya sudah terbukti bisa memberikan warna lain di setiap tim yang diasuhnya.

Kondisi diperparah dengan sikap Ventura yang keras kepala. Itu terbukti saat Ventura memilih tak memanggil gelandang kreatif Napoli, Jorginho, sepanjang fase kualifikasi.

Fans terus mendesak Ventura memanggil Jorginho karena penampilannya yang semakin apik. Tapi, Ventura tak peduli.

Baru saat playoff melawan Swedia, Ventura memanggil Jorginho. Tapi, Jorginho tak dimainkan sejak leg 1. Justru, dia lebih memilih memainkan Rossi sebagai starter dalam kesempatan itu. Hasilnya, bisa dilihat. Italia kalah dalam leg 1 dengan skor 0-1.

Pada leg 2, Ventura memainkan Jorginho. Permainan jadi lebih hidup. Sayangnya, Italia gagal mengonversikan peluang demi peluang untuk dijadikan gol. Mereka tersingkir dengan agregat 0-1.

"Semua yang bisa saya lakukan cuma minta maaf. Tapi, itu tak berpengaruh pada profesionalisme, kerja keras, atau semangat yang kami tanam dalam pertandingan ini," kata Ventura dilansir Football Italia.

Permintaan maaf Ventura belum dirasa cukup. Publik meminta adanya reformasi dalam tubuh FIGC. Bek Sassuolo, Paolo Cannavaro, menuntut adanya perubahan dalam tubuh FIGC.

Pemain Swedia rayakan keberhasilan lolos ke Piala Dunia 2018

Tragedi Belanda

Italia tak sendirian. Belanda yang termasuk tim kuat juga tak kebagian tiket Piala Dunia 2018. Belanda tersingkir karena kalah bersaing dari Swedia dengan sedikit perbedaan cerita.

Belanda menang atas Swedia di pertandingan terakhir kualifikasi grup. Tapi, kemenangan 2-0 itu tak mampu menyelamatkan mereka karena kalah agresivitas gol. 

Meski memiliki poin sama dengan Swedia yang berada di posisi dua, Belanda kalah agresivitas gol. Sementara itu, puncak klasemen dikuasai Prancis dengan 23 poin.

Kegagalan ini menjadi lanjutan mimpi buruk Belanda di kancah sepakbola internasional. Sebelumnya, Belanda juga gagal lolos ke Piala Eropa 2016 di Prancis.

Padahal, Belanda menjadi salah satu kekuatan Eropa yang diperhitungkan. Sebab, Belanda kerap melahirkan sejumlah bintang lapangan hijau berbakat. 

Kegagalan ini juga menjadi tragedi bagi publik sepakbola. Sebab, di dua edisi Piala Dunia sebelumnya, Belanda tampil gemilang dan nyaris juara.

Pada Piala Dunia 2010, Belanda menjadi runner-up setelah dikalahkan Spanyol di final. Dan saat Piala Dunia 2014, Belanda juga gemilang meski hanya meraih posisi ketiga.

Timnas Belanda

Kegagalan Italia dan Belanda menjadi kejutan terbesar. Sebab, kedua negara ini merupakan tim unggulan dan memiliki sederet pemain berbakat. Italia merupakan salah satu tim tersukses di Piala Dunia dengan raihan 4 gelar juara. Belanda sukses merebut posisi 3 pada Piala Dunia 2014 dan tiga kali keluar sebagai runner up.

Masih banyak tim unggulan lain yang gagal tampil di Rusia. Chile yang berstatus sebagai juara Copa Amerika 2015 dan 2016 tak bisa lolos. Demikian halnya dengan Kamerun yang merupakan juara Piala Afrika 2017. 

Amerika Serikat gagal lolos untuk kali pertama sejak 1986. Mereka juga berstatus sebagai juara Piala Emas CONCACAF 2017.

Lolosnya Maroko, Tunisia, Arab Saudi, dan Mesir juga menjadi sejarah tersendiri. Untuk kali pertama, ada empat negara di jazirah Arab lolos bersamaan ke Piala Dunia.

Kejutan lainnya, Islandia dan Panama lolos untuk kali pertama. Khusus untuk Islandia, mereka menjadi negara dengan populasi terkecil yang sukses melaju ke Piala Dunia.

Apa Kejutan Berikutnya?

Sudah 29 dari 32 jatah tim yang memastikan diri berlaga di Piala Dunia 2018. Pengundian grup akan dilakukan oleh FIFA pada 1 Desember 2017 di Moskow. Argentina, Brasil, Uruguay, dan Kolombia dari Amerika Latin. Panama, Kosta Rika, dan Meksiko mewakili Amerika Utara.

Dari Eropa ada Jerman, Spanyol, Inggris, Belgia, Prancis, Portugal, Kroasia, Swedia, Polandia, Serbia, Islandia, Swiss, dan Rusia. Asia mengirimkan Iran, Jepang, Arab Saudi, Korea Selatan. Sementara itu, dari Afrika ada Maroko, Nigeria, Mesir, Tunisia, dan Senegal.

Jerman sebagai juara bertahan menjadi salah satu tim unggulan untuk merebut piala. Der Panzer memiliki pemain yang bagus dan merata di berbagai lini.

Para pemain Jerman rayakan kemenangan

Pelatih Jerman, Joachim Loew, juga punya ketajaman insting menggaet pemain muda. Kesuksesan Jerman menjuarai Piala Konfederasi 2017 didominasi wajah baru dengan tim yang meraih juara Piala Dunia 2014.

Pemain yang sukses membawa Jerman juara Piala Dunia 2014, hanya ada Julian Draxler, Shkodran Mustafi, dan Marc-Andre ter Stegen dalam skuatnya saat itu. 

Itu antara lain alasan legenda sepakbola Jerman, Oliver Kahn, menilai Der Panzer pantas diunggulkan.

Selain Jerman, Brasil juga selalu menjadi tim unggulan setiap Piala Dunia digelar. Pelatih Brasil, Adenor Leonardo Bacchi atau yang akrab disapa Tite, tak segan menyebut timnya sebagai salah satu kandidat kuat juara. 

Performa tim Samba mengkilap di babak kualifikasi. Brasil adalah favorit di Piala Dunia. 
"Melihat dari sepakbola yang kami tampilkan saat ini, bagaimana kami menyelesaikan kualifikasi, level permainan dan performa, Brasil layak diunggulkan," kata Tite.

Brasil menjadi negara pertama di zona CONMEBOL yang memastikan tiket untuk lolos ke Rusia 2018. Di akhir kualifikasi, Seleccao lolos setelah mengumpulkan 41 poin dan berada di peringkat pertama.

Tim lain yang pernah menjadi juara dunia juga pantas diunggulkan. Argentina misalnya. Lionel Messi yang sukses mengantarkan Argentina meraih tiket siap tampil habis-habisan demi meraih piala sebagaimana yang telah dicapai seniornya seperti Maradona.

Tim langganan juara seperti Prancis dan Spanyol juga pantas diperhitungkan. Demikian pula tim besar seperti Inggris dan tim yang diperkuat superstar Cristiano Ronaldo, Portugal.

Selain tim-tim unggulan, kiprah dua tim debutan, Islandia dan Panama yang juga menarik disimak.

Keberhasilan Panama membuat negara langganan Piala Dunia, Amerika Serikat gigit jari.

Panama sebenarnya sudah mampu menciptakan kejutan di Piala Emas CONCACAF 2011, dengan menembus semifinal. Dua tahun kemudian, Los Calaneros menembus final di ajang yang sama, sebelum kalah 0-1 dari Amerika Serikat.

Islandia tak kalah menarik. Sensasi sudah ditunjukkan Islandia di Piala Eropa 2016 di Prancis. Berstatus tim debutan, mereka sukses menembus perempat final. Mereka sukses menyingkirkan tim kuat, Inggris di babak 16 besar.

Islandia kembali unjuk gigi dengan lolos ke Piala Dunia 2018. Tim berjuluk Our Boys ini sanggup menyisihkan Kroasia, Turki, dan Ukraina di babak kualifikasi. Islandia menjadi juara Grup I dengan 22 poin dari 10 laga. Kroasia yang menempati posisi dua, harus puas dengan jatah playoff.