Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 21 Juni 2017 | 04:17 WIB
  • PSM Ala Robert Rene Alberts: Agresif dan Berkarakter

  • Oleh
    • Luzman Rifqi Karami,
    • Bramono
PSM Ala Robert Rene Alberts: Agresif dan Berkarakter
Photo :
  • ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang
Pemain PSM Makassar berlaga di Liga 1.

VIVA.co.id – Liga 1 2017 baru menempuh sepertiga perjalanan. PSM Makassar memimpin klasemen dengan perolehan 23 poin dari 11 laga. Juku Eja hanya unggul satu angka atas Madura United. Tak ada yang dominan. Ini menunjukkan persaingan sejak kickoff hingga jeda Lebaran berjalan ketat.
 
Ada tiga layer dalam klasemen. Papan atas (urutan 1-8) yang dihuni PSM hingga PS TNI, papan tengah (urutan 9-15), dan papan bawah alias zona merah (urutan 16-18). Area degradasi yang jadi momok kini ditempati Perseru Serui, Persegres Gresik United, dan Persiba Balikpapan.
 
Di papan atas, PSM tancap gas sejak start. Skuat besutan Robert Rene Alberts tampil konsisten dengan karakter permainan terbuka dan agresif yang memikat. Juku Eja layak masuk daftar kandidat juara Liga 1 2017 meski perjalanan masih panjang dan banyak kemungkinan bisa terjadi.
 
Alberts, pelatih asal Belanda yang pada 2010 membawa Arema Indonesia naik podium juara Indonesia Super League (ISL), berprinsip dan berkarakter kuat. Ia juga cerdas, pemberani, dan bertangan dingin. Datang ke Makassar dengan konsep yang jelas, ia wujudkan PSM made in Alberts.
 
Terkait pemain U-23, misalnya,  Alberts mampu mengasah dan mengoptimalkan kuota yang ada di PSM. Bek kiri Reva Adi Utama, gelandang Moh Arfan, Asnawi Mangkualam Bahar, dan winger energik Ridwan Tawainella tampil memukau. Mereka ada bukan buat sekadar memenuhi regulasi.
 
Dalam olahan Alberts, keempatnya progresif dan berkontribusi besar bagi pencapaian PSM. Kehadiran mereka memudahkan kerja kuartet asing Steven Paulle, Marc Anthony Klok, Willem Jan Pluim, dan Reinaldo Elias. Pluim dkk pun menjelma sebagai pemain asing terbaik di Liga 1 2017.
 
Tengok juga bagaimana Alberts mengatur dan membuat pemain senior domestik kembali bersinar. Kapten tim Hamka Hamzah tampil mantap dan matang bersama Zulkifli Syukur di sektor pertahanan. Titus Bonai dan Ferdinand Sinaga jadi pembeda di lini depan meski kerap turun sebagai pengganti.  
 
Tak kalah penting adalah kemajuan pesat M Rahmat. Sayap kiri lugas dan tangkas ini pantas masuk radar timnas senior Indonesia.
 
Kualitas pemain muda, kontribusi pemain asing dan pemain senior domestik yang dipadukan Roberts dengan baik lewat konsep yang jelas jadi jangkar kekuatan PSM. Dan, itulah bukti kelebihan Alberts dibandingkan pelatih lain yang beredar di Liga 1 2017.
 
Racikan taktik Roberts membuat permainan PSM dinamis dan enak ditonton. Permainan berorientasi menyerang lewat skema 4-3-3 dalam intensitas tinggi diimplementasikan Pluim dkk dengan jitu. Tak heran jika PSM stabil berada di jalur pacu juara.
 
Alberts seperti ingin menyampaikan pesan penting ini: sepakbola dapat dimainkan buat memforsir kemenangan dengan cara indah atau brilian. Segaris dengan ungkapan Arrigo Sacchi, “Non solo vincere, ma anche convincere (bukan hanya menang, tapi menang secara mengesankan).”
 
Apresiasi layak diapungkan kepada PSM bersama Roberts. Semoga ini jadi momentum kebangkitan sepakbola Makassar. Semoga juga PSM tetap rendah hati buat melakukan introspeksi. Sebab, apa pun gol penalti penalti Reinaldo Elias ke gawang Sriwijaya FC dan Pusamania Borneo FC memantik kontrioversi.
 
Begitu pula kekalahan 1-2 Juku Eja dari Semen Padang FC. Kekalahan itu terbilang mengejutkan. Maklum, di laga sebelumnya, PSM sukses mencukur Persipura Jayapura 5-1. Kontroversi gol penalti dan kekalahan menegjutkan itu setidaknya mengingatkan agar PSM tak cepat berpuas diri. Ewako PSM!

(Tommy Welly, pengamat sepakbola nasional)