Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 28 November 2017 | 11:23 WIB
  • Wasit Final Liga 2 Ditentukan 1 jam Sebelum Pertandingan

  • Oleh
    • Muchamad Syuhada,
    • Dede Idrus (Bandung)
Wasit Final Liga 2 Ditentukan 1 jam Sebelum Pertandingan
Photo :
  • VIVA.co.id/Pratama Yudha
COO PT. Liga Indonesia Baru (LIB), Tigor Shalomboboy

VIVA – Kepemimpinan wasit bakal menjadi sorotan pada laga final dan perebutan juara ketiga Liga 2 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Selasa 28 November 2017.

Pertandingan pertama akan mempertemukan PSIS Semarang menghadapi Martapura FC pada sore hari. Kemudian dilanjutkan dengan partai puncak PSMS Medan kontra Persebaya Surabaya.

PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator kompetisi memastikan penunjukan wasit yang akan memimpin ditetapkan pada satu jam sebelum pertandingan. Keputusan itu dibuat untuk mencegah dari hal nonteknis

"Sama seperti di babak 8 besar kemarin dari kami di Liga terkait penunjukkan wasit itu melakukan di 60 menit sebelum pertandingan," ujar Chief Operation Officer PT LIB, Tigor Shalom Boboy, kepada VIVA.

Mekanisme penunjukkan wasit, kata Tigor, dilakukan melalui beberapa tahap. Ada sekitar 28 wasit yang ditetapkan PSSI untuk bertugas di babak 8 besar hingga final, kemudian mengerucut ke 6 nama dan akhirnya diputuskan.

"Sekitar 3 atau 4 jam sebelum pertandingan itu mengerucut menjadi 6 nama dan satu jam sebelum pertandingan di putuskan," lanjut dia.

Dia berharap wasit yang memimpin pertandingan di final dan perebutan juara ketiga melakukan tugasnya dengan baik dan pemain bisa menunjukkan sikap sportivitas.

"Sebenarnya agak krusial di pertandingan tiga dan empat. Kemarin juga minder ada protes di babak semifinal, kalau ada protes tim bisa menyampaikan kita akan tindak lanjut," katanya.

Sementara itu, Pelatih Martapura FC Frans Sinatra Huawei, berharap kepemimpinan wasit dipertandingan nanti bisa adil. Dia tidak ingin ada tim yang diuntungkan.

"Kita mengimbau perangkat pertandingan ini melihat bekerja ini bukan untuk siapa, tapi bagaimana menegakkan aturan kalah menang itu lumrah," ujar Frans. (ren)