Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 5 Desember 2017 | 04:33 WIB
  • Djadjang Nurdjaman soal Dihujat dan Diminta Kembali Bobotoh

  • Oleh
    • Riki Ilham Rafles
Djadjang Nurdjaman soal Dihujat dan Diminta Kembali Bobotoh
Photo :
  • VIVA/Purna Karyanto
Djadjang Nurdjaman

VIVA – Djadjang Nurdjaman kini bisa tersenyum lepas. Dia berhasil mengantarkan PSMS Medan promosi ke Liga 1 2018 mendatang. Datang menggantikan Mahruzar Nasution ketika babak 16 besar Liga 2 2017 bergulir bukanlah tugas mudah bagi pria yang akrab disapa Djanur tersebut.

Djanur datang dengan rekam jejak kegagalan bersama Persib Bandung di putaran 1 Liga 1. Bahkan, dia memilih mundur dari klub berjuluk Maung Bandung itu ketika kompetisi baru memasuki pekan ke-14.

Tekanan dari Bobotoh dan cemoohan dari segelintir pihak di media sosial sempat membuat juru taktik berusia 64 tahun tersebut naik pitam. Bukan karena dia merasa disudutkan, tetapi banyak kata-kata tak pantas yang dialamatkan kepadanya.

Semua tekanan yang telah berlalu itu dilupakan oleh Djanur. Kini dia fokus menangani PSMS yang akhirnya bisa kembali mentas di kompetisi kasta tertinggi Indonesia. Dia juga tak ingin menyimpan dendam kepada Bobotoh, suporter Persib.

Satu hari setelah PSMS berhadapan melawan Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), tim VIVA menyambangi Djanur di tempat tim berjuluk Ayam Kinantan itu menginap. Eks juru taktik Pelita Jaya U-21 itu tampak santai menikmati keberhasilan promosi, walau di laga final kalah 2-3 dari Persebaya.

Berikut petikan wawancara VIVA dengan pria yang pernah membawa Persib juara Liga Super Indonesia (ISL) 2014 lalu itu:

Bagaimana perjalanan karier coach Djadjang setelah di awal mengalami kesulitan, tapi kemudian di klub berbeda mendapati kejayaan?

Di musim ini saya menukangi dua tim, di awal saya menukang Persib sampai putaran pertama, dan bisa dikatakan tahun ini bukan tahun saya di Persib karena banyak sekali kendala. Sehingga seperti biasa saja, ketika kita tidak bisa mengangkat tim seperti Persib ini, maka kita akan dapat cemoohan dan semacamnya dari Bobotoh atau mana pun, karena tekanannya amat luar biasa. Sehingga saya harus mundur dari kursi kepelatihan Persib sampai tiga pertandingan sebelum putaran 1 berakhir.

Setelah itu saya istirahat hampir tiga bulan, hingga kemudian ada tawaran dari manajemen PSMS untuk melanjutkan tim yang waktu itu sudah masuk 16 besar Liga 2, dan alhamdulillah akhirnya sampai di puncak Liga 2. Walau kami tidak bisa memenangi pertandingan, tetapi setelah sekian lama PSMS berada di kasta kedua, namun kami akhirnya bisa ke Liga 1. Ini pencapaian yang baik bagi saya dan pemain.

Dapat tawaran dari Liga 2, sebagai pelatih tentu punya gengsi. Apa yang membuat coach Djadjang mau menerima tawaran PSMS?

Tentu, awalnya saya berpikir panjang, karena jujur waktu itu saya sedang menikmati masa rehat setelah begitu banyak tekanan di Persib. Dan ketika keluar begitu nyaman sekali.

Ketika datang tawaran dari Liga 2, awalnya saya berpikir keras karena memang Liga 2 ya, orang akan berpikir kok turun kasta dan segala macam. Tapi, niat saya yang terpenting tetap memberi kontribusi bagi sepakbola Indonesia.

Yang kedua, tawaran ini datang dari PSMS Medan yang kita tahu merupakan kesebelasan legendaris di era Perserikatan dulu. Jadi saya pikir kalau bisa membantu naik ke Liga 1 ini kan sesuatu yang luar biasa bagi saya. Itulah yang jadi bahan pertimbangan saya mau menerima tawaran.

Beratkah beban sebagai pelatih masuk di tengah kompetisi Liga 2 berjalan?

Jujur, masuk di tengah jalan dengan materi pemain yang saya tidak tahu itu risikonya cukup besar. Tapi, saya memilih ambil tantangan itu dan alhamdulillah bisa menjalaninya dengan baik.

Ketika di Persib dapat tekanan suporter, masuk PSMS materi pemain bukan bentukan Anda. Apakah tidak ada trauma dapat tekanan lagi?

Tekanan di PSMS dan Persib sama. Terbukti di awal-awal pertandingan saya masuk, kebetulan tanpa latihan dulu ketika tandang ke Semarang. Kalah langsung 1-0, kemudian balik ke kandang dapat hasil seri melawan Persita Tangerang, dan itu sudah mulai timbul tekanan dan kata cemoohan.

Lantas apa yang dirasakan ketika itu?

Saya punya keyakinan sudah dua pertandingan, jadi sudah bisa melihat kualitas pemain yang dimiliki PSMS. Dan saya punya keyakinan kalau saja ada perbaikan di dua-tiga posisi, saya kira bisa baik. Saya datangkan tiga pemain pinjaman dan akhirnya bisa melaju.

Selanjutnya... Setelah di Persib