Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 19 November 2017 | 21:36 WIB
  • Moratti: Penjualan Inter Berbeda dengan AC Milan

  • Oleh
    • Zaky Al-Yamani
Moratti: Penjualan Inter Berbeda dengan AC Milan
Photo :
  • REUTERS/Alessandro Garofalo
Presiden Inter Milan, Erick Thohir (kiri) dan Massimo Moratti

VIVA – Mantan presiden Inter Milan, Massimo Moratti meminta publik tidak membandingkan penjualan saham Inter Milan dengan AC Milan.

“Benar-benar tidak ada kesamaan antara penjualan saham saya kepada Erick Thohir dan penjualan saham AC Milan, keduanya memiliki karakter yang berbeda”, ujar Moratti.

Moratti menjual saham miliknya kepada Erick Thohir (pengusaha Indonesia) pada akhir 2015 lalu setelah melewati proses peralihan yang sangat transparan dan berlangsung beberapa bulan saja.

Proses tersebut menyisakan 30 persen saham Inter kepada Moratti dan 70 persen sisanya dimiliki Erick Thohir, sekaligus mengangkat Thohir sebagai presiden klub asing pertama di Italia hingga saat ini.

Sebelum diumumkannya peralihan saham tersebut, Thohir sendiri telah mengajukan rencana bisnis lima tahun yang mencakup:

  • Membangun tim yang kompetitif namun tetap menghargai Financial Fair Play dengan target lolos kualifikasi Liga Champion dalam lima tahun.
  • Membangun manajemen profesional, yang terdiri dari orang-orang terbaik di bidangnya, baik dari dalam maupun luar Italia;
  • Membangun revenue dari luar Italia karena Inter merupakan salah satu klub Eropa dengan kekuatan global brand terbesar, di mana lebih dari 190 juta penggemar Inter di Asia, fanbase terbesar berasal dari Cina dan Indonesia;
  • Meningkatkan infrastruktur klub, berupa perbaikan pusat pelatihan tim, baik untuk tim inti maupun Primavera serta kemungkinannya mengambil alih San Siro dan merenovasi kandang Inter tersebut;
  • Mencari rekan bisnis potensial yang bisa meningkatkan kinerja klub.

Terkait poin terakhir, pada pertengahan 2016, Inter mengumumkan penjualan saham Thohir kepada Suning Group yang dimiliki oleh Zhang Jindong. Ada alasan utama terkait penjualan itu.

Menurut Thohir, sebuah klub sebesar Inter membutuhkan rekan bisnis seperti Suning yang merupakan grup retail terbesar di China untuk memperkuat strategi bisnis global yang sudah direncanakan.

Suning diyakini bisa membawa Inter kembali berprestasi di Serie A, dengan bisnis yang bisa bersinergi dengan Inter yaitu pada penjualan merchandise, lisensi dan konten. Saat ini Suning memiliki 68 persen saham Inter dan Thohir sebesar 32 persen.

(Sumber: Inter Milan)